Waktu Terbaik

2016, 3142 mdpl
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." QS. Al-Baqarah:216

Dua minggu lalu seorang teman bercerita pada saya tentang kurang puasnya dia dengan hasil yang dia peroleh selama dua tahun ini. Rencana PhD nya menjadi sedikit sirna karena supervisor nya belum menemukan sumber dana untuk proyeknya. Pekerjaan? Masih nihil. Saya terdiam sebentar sebelum menanggapi cerita dia. Dia adalah salah satu teman baik saya yang selalu berfikir positif. Selama saya mengenalnya. Saya akhrinya memberi jawaban diplomatis yang mungkin klise. Memang mungkin Allah sudah mengatur yang terbaik. Kita tidak tau, tidak pernah tau. Kita hanya perlu berbaik sangka saja pada Allah. Sebagai manusia yang sejatinya memang tidak sempurna, memang susah untuk menerima rasa kecewa dan tidak puas. Apalagi jika mungkin kita merasa sudah melakukan semua hal secara maksimal. Waktu itu pembicaraan kita terhenti karena metro sudah sampai di Stasiun Vanlose. Kami harus pulang ke rumah masing-masing. Esok harinya dia kembali ke Indonesia karena sudah menyelesaikan pendidikannya. Setelah seminggu di Indonesia, Ibunya pulang kembali meghadap Tuhan Yang Maha Esa. Innalillahi wa innalillahi rajiun. Allah memang paling tau waktu terbaik untuk apapun dalam hidup kita.

Hari ini saya menyelesaikan pendidikan saya di Denmark. Masih belum percaya saya sudah menyelesaikan tugas akhir ini yang saya sendiri bahkan ragu bisa menyelesaikannya dulu. Ada masa dimana saya sendiri bahkan merasa gagal ketika banyak kesalahan yang saya sadari dari tugas akhir saya. Namun, bagaimana bisa menyerah kalau banyak yang terus memberikan semangat untuk tetap optimis dan tidak begitu saja berhenti berusaha. Kalau kata seorang teman lain "Better done than perfect". Pada akhirnya waktu yang ditunggu datang juga. Kurang dari satu bulan lagi saya akan pulang. Menuju rumah yang sudah dua tahun saya tinggalkan. Denmark telah banyak mengajarkan saya mengenai kehidupan. Tapi Indonesia menunggu untuk masa depan.

Comments

Popular posts from this blog

Privat les IELTS di Pare

1 Tahun di Eropa

Mudahnya Pinjam Buku di Denmark