Restoran Cepat Saji

Malam ini tiba-tiba ada chat panjang ngajakin liburan. Padahal aku masih thesis dan yang ngajak liburan itu lagi sibuk internship. Karena malas balas, akhirnya kita telponan. Kami bukan tipikal orang yang suka chat karena butuh waktu baca dan mencerna tulisannya. Kalau aku, lebih suka telpon karena bisa multitasking.

Hasil telponan barusan bikin aku dan Kak Rafika, inget waktu liburan tahun lalu. Kami memutuskan untuk liburan secara dadakan tahun lalu dengan membeli tiket dan menyusun rencana itinerary salam satu malam. Kami mengunjungi beberapa negara dan kota dalam kurun waktu tiga minggu. Diawali dengan Budapest, Hongaria dan diakhiri di Copenhagen, Denmark.

Kami menamakan liburan musim panas 2017 kami dengan sebutan #RafikaHanumTrip karena terinspirasi dari liburan kakak sepupuku, #TiwiIdhamTrip kala itu. Singkat cerita, kami punya pengalaman berharga yang berhubungan dengan salah satu restoran cepat saji yang berwarna merah dan kuning. Tau kan? Kamu pasti tau kalau suka jajan junk food.

Kemari gak pakai lari

Perjalanan dari Innsbruck, Austria menuju Fussen, Jerman kami lakukan menggunakan bus. Kami memang termasuk mahasiswa yang liburan nekat karena budget minim tapi mau banyak. Jalan kaki gak masalah yang penting tidur nyenyak. Liburan sudah diatur waktunya sesuai jadwal. Terkesan gak menikmati. Namun, itulah cara kami menikmati liburan. Dikejar waktu sambil dinikmati sehingga lebih banyak bersyukur dan berbaik sangka sama Allah.

"Num, iphone gue kayaknya ketinggalan di kamar mandi di tempat makan tadi deh," Tiba-tiba Kak Fika panik mencari iphone nya yang baru dia beli karena hp lamanya emang minta dilempar beli baru.

"Astagfirullah Kak. Udah tas Kak Fika taroh, aku cari di tas. Kakak balik ke sana cari. InsyaAllah masih ada. Jangan lari, jalan cepat aja." Kataku sok gak panik berusaha menenangkan dia.

Kami sudah berjalan sekitar dua kilometer dari tempat kejadian perkara sehingga aku memutuskan untuk menunggu di tempat terakhir sedangkan Kak Fika mengejar keberuntungannya. Sembari menunggu aku banyak memikirkan si kakak.

Kalau hilang, kasihan juga Kak Fika. Hp lamanya rusak, ini beli baru masih nyicil pula. Ya masa hilang sih. Gak mungkin Allah tega sama hambaNYA ini. Pasti ada lah cara Allah simpen iphone kakak. Kalau Allah tega, bakalan dikasih bonus apa ya Kak Fika nanti? Penasaran.

Kemudian dia datang sambil mau nangis. Lemes langsung aku ngelihatnya. Berasa lagi main sinetron atau ada diacara reality show yang settingan itu. Ternyata iphone nya ketemu karena ada orang yang nemuin di kamar mandi dan nitipin ke manager restoran cepat saji itu. Alhamdulillah.
"Allah maha baik ya," Kata Kak Fika.
Dia merasa udah pasrah banget karena gak kuat lari. Jadi, Kak Fika emang punya asma jadi kalau dia kumat bisa gawat jadwal liburan kita. Habis itu dia masukin iphone barunya ke tas dan gak mau dimain-mainin lagi. Nah itu, kalau gak aktivasi roaming ya gak usah kaget langsung mainan handphone mentang-mentang ada wifi ya teman-teman. Hahaha. Biasa aja sama wifi. Akhirnya itu jadi banyolan sepanjang liburan kami. Kalau sudah rezeki itu gak akan ke mana. Asalkan kita juga usaha, pasrah dan berbaik sangka sama Allah. Itu harus!


A day to remember

Lain halnya dengan aku. Aku punya kenangan tersendiri di cabang restaurant cepat saji yang sama di Bratislava, Slowakia. Siang itu, tepat jam satu siang matahari sedang panas-panasnya. Kami cuma punya waktu empat jam di sana sebelum lanjut naik bis ke Praha. Setelah jalan menuju pusat kota dan kepanasan, Kak Fika minta minum es kopi di sana. Yasudahlah, padahal aku gak sabar pengen explore kotanya setelah mampir ambil peta gratis di Tourist Information Centre. Biar kaya berpetualang gitu kaya mencari harta karun make peta segala. Apasih. Anyway, Kak Fika akhirnya jumawa jalan duluan masuk ke sana sekalian nebeng ngadem sekaligus cari wifi.

Jadi ceritanya begini.
Setelah ngefollow instagram, akhirnya difollow back juga. Milenial sekali bukan?

Yasudah ceritaku cuma itu saja. Orang itu memaknai sesuatu dengan berbeda-beda. Aku memaknai restoran cepat saji itu sebagai tempat titik awal yang meyakinkanku kalau melawan ego diri sendiri itu pasti bisa dilakukan walaupun butuh waktu dan perjuangan.

Terima kasih sudah menghabiskan waktu bersama jalan ke sana ke mari
Mau nyasar dan terpaksa menikmati udara kota
Senda gurau selagi mampu sambil bersyukur akan adanya matahari
Memenuhi hasrat liburan hati-hati yang meronta

Comments

Popular posts from this blog

Privat les IELTS di Pare

1 Tahun di Eropa

Mudahnya Pinjam Buku di Denmark