Renungan Ramadan

Tanaman di rumah tante

Awal aku pulang, rasanya ingin silaturahmi ke rumah Tante dan Om. Namun, ternyata jadwal masih kurang bersahabat. Tante sempat sedih karena jadwal kita kurang cocok. Ketika dia ke Jakarta, aku di kota lain. Ketika aku di Jakarta, tante pulang ke Semarang. Sedikit cerita, ketika aku kuliah dulu, kami hampir setiap minggu bertemu untuk bercerita tentang waktu yang sudah kami habiskan.

Bulan lalu mamah menangis seketika memberikan kabar di malam hari melalui telpon. Ia tidak menyuruhku pulang sama sekali karena tau aku masih harus penelitian. Hidup itu pilihan, katanya.

Akhirnya aku pulang dan untuk terakhir kalinya aku mengantar Yangkung ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Tempat yang aku dan beliau obrolkan ketika naik delman beberapa tahun lalu ketika aku berlibur di sana waktu sekolah dasar.

Karena sesungguhnya rencana Allah itu memang paling tepat untuk hambaNYA. Akhirnya satu keluarga besar dari mamah bertemu di rumah Yangkung dan Uti (Eyang Putri) bulan lalu ketika Yangkung kembali menghadap Allah SWT.

Sedih? Pasti. Merasa kehilangan? Tentu saja. Tetapi Allah pasti sudah tau yang terbaik. Terkadang kita melihat sesuatu hanya dari satu sisi dan lupa kalau bisa lihat dari sisi lainnya. Akhirnya aku bisa berkumpul dengan seluruh keluarga besar ketika aku pulang ke Indonesia.

Dini hari tadi, Bude juga menghadap Allah.
"Pada akhirnya kita itu memang sendirian. Hanya amal ibadah
yang kita bawa nanti ketika menghadap ilahi dan doa anak yang saleh dan salihah yang bisa menolong. Makanya kamu dan kakak jadi anak yang baik ya," kata mamah ditelpon sambil bercerita menu makan sahurnya di rumah.
Terima kasih Allah sudah mengingatkanku. Inna lillahi wa inna lilahi raji'un.

    Comments

    Popular posts from this blog

    Privat les IELTS di Pare

    1 Tahun di Eropa

    Mudahnya Pinjam Buku di Denmark