Hampir dideportasi

Serem banget ya judulnya? Ya memang begitu kenyataannya kuliah di luar negri. Tidak melulu jalan-jalan sambil mengunggah foto di Instagram lengkap dengan caption bijaknya. Beberapa waktu lalu saya sempat mengalami situasi kurang enak karena nyaris dideportasi dari Eropa. Gimana ceritanya?

Kartu pink dari Belanda dan Denmark

Residence permit Denmark sampai bulan Juli 2017
Sewaktu saya apply visa dan residence permit (ijin tinggal di Denmark) di Jakarta dulu, saya tledor pakai passport saya yang mau habis tahun 2017 bulan Oktober jadi saya cuma dapat ijin tinggal di Denmark hingga bulan Juli 2017.

Pelajaran untuk yang mau sekolah atau kerja, perpanjanglah passpor Anda sebelum apply residence permit ya. Setidaknya passport habis setelah urusan di luar negri selesai.

Exchange di Belanda
Saya buat residence permit lain di Belanda karena harus tinggal lebih dari 3 bulan di sana. Nah, sewaktu meninggalkan Denmark kebetulan saya sign out dari alamat kosan karena memang sudah ada penghuni kos setelah saya dan saya cuma nitip barang aja di rumah landlady (ibu kos) saya. Harusnya saya apply dispensasi agar residence permit Denmark saya gak lapse atau gugur. Tapi dulu diskusi dengan student service dan disimpulkan tidak usah mengisi formulir dispensasi karena saya tinggal di Belanda cuma 5 bulan. Ternyata ini lah sumber masalahnya.

Perpanjang residence permit di Den Haag
Residence permit Denmark saya habis bulan Juli 2017 dan saya memutuskan untuk perpanjang di Bulan April 2017 karena kita bisa memperpanjang 3 bulan sebelum masa berlaku habis. Karena posisi saya di Belanda akhirnya saya perpanjang dan apply dari Kedutaan Besar Denmark di Belanda, Den Haag. Saya sempat menulis ceritanya di sini.

Perhitungan saya, bulan Juni kartu pink (sebutan untuk residence permit karena kartunya berwarna pink) saya sudah jadi karena paling tidak proses pengerjaannya itu 2 bulan sejak semua dokumen lengkap. Saya percaya diri semua dokumen saya itu lengkap karena sudah double check oleh petugas kedutaan Denmark di Belanda dan saya sendiri.

Belum lengkap juga ternyata karena saya harus melampirkan scan foto passport saya dari halaman 1 hingga 48. Ya, semua halaman karena saya awalnya cuma kirim bagian yang ada datanya dan ternyata tidak ada balasan email dari petugas karena salah. Harus semuanya. Informasi ini saya dapatkan dari telpon ke imigrasi langsung dari Belanda. Selain itu berkas saya masih belum selesai karena residence permit Denmark saya yang expired itu dianggap lapsing karena saya gak apply dispensasi. Jadinya berkas saya kali ini dianggap sebagai apply baru. Saya juga masih harus melampirkan scan kartu residence permit Belanda saya. Hingga bulan Agustus awal, belum ada kabar tentang aplikasi saya padahal residence permit Belanda saya expired pada akhir Oktober 2017.

Panik, bingung, takut, dan akhirnya saya berani cerita ke salah satu teman PPI Denmark dan akhirnya difasilitasi untuk konsultasi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Denmark. Agak sedikit lega karena saya disabarkan dan diingatkan untuk terus berdoa karena jika residence permit saya ditolak berarti saya harus pulang ke Indonesia sebelum 31 Oktober 2017 dan membuat baru dari Jakarta. Saya jadi mikir berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk pesawat dan apply residence permit baru. Kegiatan saya yang padat karena karus pindahan dari Belanda ke Denmark, ambil barang di rumah lama dan dipindah ke rumah temen sementara, ikut summer course di Polandia, pindahan ke rumah baru, serta jadwal liburan yang sudah saya susun jadwalnya sedemikian rupa membuat saya tambah pusing lagi hingga pada akhirnya saya pasrah.

Saya telpon orang tua dan bilang kalau mungkin akan pulang di Bulan Oktober 2017 dan malah mamah saya ngelawak. Mungkin antara ngelawak dan sedih anaknya nasibnya gak jelas banget.

Saya: "Mah, mau pulang kayaknya nih bulan Oktober. Gak tau balik lagi atau enggak. Urusan administratif sedikit bermasalah."
Mamah: "Kamu emangnya mau pulang ke mana? Kuliahnya terus gimana? Berhenti?"
Saya: "Ke rumah. Ya mau gimana lagi?"
Mamah: "Rumah mana? Gak jadi dapet master berarti?"
Saya: "Rumah Yangkung sama Uti juga boleh. Ya belum rezeki berarti, maaf ya Mah."

Ya begitulah kira-kira percakapan sama mamah saya. Seperti sudah nyaman tinggal sama Bapak sampai bingung anaknya kalau pulang ke rumah mau ke rumah siapa. Ya masa ke rumah tetangga apalagi mertua. Ribetnya, saya harus balik ke Belanda atau saya kirim via kurir, yang gak murah juga biayanya, kartu residence permit Belanda sebelum 31 Oktober 2017 dan lapor ke Gemeente Wageningen untuk pamit kalau saya keluar dari Wageningen.

Apakah kartu pink sudah jadi sekarang?
Saya dapat email dari imigrasi tanggal 15 Agustus 2017 kalau residence permit saya sudah granted. Akhirnya ya setelah mengurus dari bulan April, ada juga hasilnya. Sekarang saya punya surat resmi dari imigrasi tapi kartu pink saya belum dicetak karena saya tidak punya alamat rumah.

Jadi kalau di Copenhagen, pindah ke rumah baru itu harus lapor Kommune kalau saya tinggal di rumah itu. Harusnya kalau saya sudah punya kartu kuning (CPR card), saya bisa langsung update data via online tapi karena masalah residence permit saya itu akhirnya saya harus ke kantor International House Copenhagen (IHC) untuk mengurus semuanya dari awal seperti pertama kali saya apply CPR. Keribetan ini belum berakhir karena waktu ke IHC saya disuruh ke Bolig Office (yang ngurusin rumah). Di Bolig Office sampai telpon help center, disuruh balik ke IHC. Ya intinya mondar-mandir dan saya harus nunggu 3 minggu sampai 1 bulan ketika pihak IHC kirim invitation ke saya untuk interview dan pembuatan kartu. Kalau saya sudah punya kartu kuning (CPR card) maka saya lapor pihak imigrasi dan kartu pink saya akan dicetak dan dikirim ke alamat rumah baru saya.

Semoga Allah selalu bersama semua hambaNYA. Semoga cepat selesai urusan rumah dan kartu ijin tinggal ini karena sesungguhnya saya mau kuliah dengan tenang tanpa mikirin mimpi buruk dideportasi.

Comments

Popular posts from this blog

Privat les IELTS di Pare

1 Tahun di Eropa

Mudahnya Pinjam Buku di Denmark