Summer School 2017 di Polandia

Bulan Juli hingga Agustus tahun ini saya mendapat kesempatan untuk mengikuti summer course dengan tema "Sustainable Food System and Diet" di Warsaw University of Life Sciences (WULS), Polandia. Ini adalah salah satu program dari Erasmus+ yang bekerjasama dengan beberapa kampus di negara Eropa seperti universitas saya, University of Copenhagen, di Denmark lalu Estonian University of Life Science, University of Kassel, University of Applied Sciences (MUAS) FH Munster Germany, ISARA-Lyon France, UNISG Italy, dan Universidad Politecnica de Madrid.

Bukan foto studio yang make background

Delegasi dari University of Copenhagen bersama Prof. Susanne Bugel

Proses seleksi peserta dilakukan sejak bulan April 2017 dan akhirnya saya beserta 32 mahasiswa master dan doktoral lainnya mengikuti serangkaian kegiatan summer course sejak bulan Mei hingga Juli 2017. Proses belajar dimulai dengan dengan sistem online learning. Terdapat kurang lebih 12 video materi dengan durasi 15 menit setiap videonya. Selain itu setiap mahasiswa harus menyiapkan presentasi tentang makanan nasional dari negaranya yang dimasak dan diukur tingkat sustainabilitasnya dari segi kesehatan dan lingkungan (waste nya). Kebetulan saya mempresentasikan Masakan Sunda khususnya Pepes Ikan Nila.

Presentasi Masakan Sunda sebagai salah satu makanan Indonesia 
Awalnya sempat terjadi drama karena saya belum membaca instruksi lengkap tentang tugas itu. Alasan besar sampai tledor karena saya megambil 5 mata kuliah di periode 4 ketika kuliah di Wageningen University and Research, Belanda dengan total 12 ECTS (4 MOS module dan 1 course, mau pindahan ke Copenhagen, dan nyaris dideportasi. Singkat cerita bertemulah saya dengan Rahman, seorang teman di Wageningen, di perpustakaan Forum dan dia menegaskan tugas serta apa yang harus dilakukan di hari terakhir saya di Wageningen. Sore hari saya belanja ke toko asia di Wageningen ditemani Mas Ferry karena sudah panik banyak yang harus dilakukan sebelum besok paginya pulang ke Copenhagen. Pepes ikan nila selesai dimasak dini hari dan proses pembuatan presentasi diselesaikan di jalan selama dari Wageningen. Belanda hingga sampai Copenhagen, Denmark. Terimakasih Rahman, Mas Ferry, Kak Rahma, Kak Rafika, Mba Intan, Merdeka, Ince, Afrita, Arina dkk. Saya belajar tentang sustinability melalui makanan yang dimasak dan dikonsumsi dari tugas kali ini terutama makanan Indonesia di luar negeri.

When the foods comes to the foreign country, those who want to cook this traditional culinary must consider the carbon footprint generated from the imported ingredients of the culinary.
Setelah melewati proses perjalanan udara dengan keterlambatan lebih dari 10 jam akhirnya saya bisa mengikuti kegiatan summer school selama 14 hari secara intens di lapangan untuk melihat secara langsung proses pembuatan keju tradisional dari Tatra Mountain. Setiap mahasiswa bekerja berkelompok untuk berdiskusi dan memberikan saran untuk tiap perusahaan keluarga yang memproduksi "oscypek". Saya sempat kaget ketika tahu kalau para peternak tidak memikirkan hasil dari penjualan kejunya. Mereka bekerja untuk mempertahakan tradisi turun temurun di keluarganya karena keju oscypek ini adalah salah satu jenis produk PDO (Protected Designation or Origin). PDO adalah kriteria untuk produk yang diproduksi, diproses, dan disiapkan di daerah tertentu dan diproduksi secara lokal orang penduduk setempat.

Mountain cheese with special pattern
Ternyata untuk menjustifikasi sebuah proses pembuatan keju itu sustainable atau tidak itu banyak sekali kriterianya dan kami lakukan hanya sebagian kecil dari banyaknya kriteria. Sustainability sendiri terdiri dari lingkungan, ekonomi, dan sosial aspek. Tidak mudah untuk dapat memenuhi ketiga aspek keberlangsungan namun bukan berarti tidak bisa dilakukan.

Saya bersemangat ketika kami belajar tentang Organic Food Quality and Food Culture berasama Prof. Angelika Ploeger. Kami jadi tahu bagaimana mengevaluasi keju. Cara yang mudah dilakukan ini terus diinisiasi untuk diprektekkan dengan harapan para pembuat keju juga dapat melakukan sensory evaluation sehingga kualitas keju tetap terjaga hingga turun-temurun.


Sensory evaluation is also scientific methods consist of human senses such as sight, smell, touch, taste, hearing. Human are able to perceive the whole food system with their senses. After the test, we concluded that eating behavior from individual was develop and it is not about the quality of the food. It is about the preference of the food.

Kami juga mendapat penjelasan mengenai New Nordic Diet (NND) dan Mediterranean Diet (MD) yang menurut saya, kedua jenis diet itu bisa di terapkan dengan mengaplikasikan prinsipnya meggunakan kearifan lokal. Adapting MD and NND as principle with our own traditional recipe using local product is better thus, people can prepare foods sustainably. Traditional and local food could also help to reduce enviromental impact. Engagement to local cuisine could also help to preserve the tradition.





National dinner menjadi acara puncak sebelum pengumuman nilai di WULS. Saya waktu itu buat pisang goreng dan es kuwud sebagai makanan pembuka dan pilihan minuman non alkohol di laboratoriumnya WULS. Sebenarnya masih banyak cerita lainnya tapi kalau mau diceritakan semua kegiatannya bisa jadi beberapa postingan dan sebelumnya saya juga sudah menulis salah satu kegiatan kunjungan ke Biobazar di sini. Selain belajar dan mengenal kebudayaan lokal, pastinya ada bonus jalan-jalan dong dihari libur di mana tidak ada kegiatan aktivitas akademik. Saya juga mengunjungi beberapa museum di Warsawa dengan harga tiket masuk untuk mahasiswa (kurang lebih Rp 4.000,- atau 1 zloty). Cerita museumnya nanti dulu ya!

Semoga cerita singkat ini bisa memberikan gambaran sedikit untuk teman-teman bagaimana kegiatan summer course gratis dari Erasmus+ kali ini. Semua slide presentasi bisa didownload di sini. Selamat menikmati musim panas Sahabat Blog.

Food is without border anymore, eat wisely and live happily!

Pictures are taken by Leonardo Grasso, Yao Chen, Magdalena Backer, and  Hanum Hapsari  (me)

Comments

Popular posts from this blog

Privat les IELTS di Pare

1 Tahun di Eropa

Mudahnya Pinjam Buku di Denmark