1 Bulan di Denmark


Allah sungguh baik membiarkan salah satu hambaNYA ini memiliki kesempatan untuk hidup di Denmark, salah satu negara dengan penduduk paling bahagia di dunia. Mengingat kembali bagaimana perjuangan menuju ke Denmark membuat saya berfikir bahwa hidup itu memang harus diperjuangkan. Untuk yang tidak setuju dengan saya, silahkan karena Anda berhak berpendapat.

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Q. S. [13] : 11

Dua bulan lamanya saya harus merelakan waktu saya untuk tidak bekerja karena belajar IELTS di Kampung Inggris, Pare. Jika saya mau iri, tentulah saya bisa iri dengan teman-teman satu angkatan yang sudah mulai menapakki jenjang karirnya masing-masing. Namun entah mengapa keyakinan saya untuk melanjutkan sekolah sangat besar ditambah dukungan dari keluarga terutama Mama. Setelah dari Jawa Timur, saya memutuskan untuk tinggal di Jakarta sambil menunggu waktu ujian IELTS. Karena saya pengangguran, jadilah saya mendaftar les IELTS lagi, belajar bersama, dan menjadi volunteer di beberapa tempat.

Hidup di Jakarta tanpa pekerjaan tidaklah mudah. Hal ini membuat saya akhirnya kembali aktif menulis di blog, yang usianya sudah 6 tahun ini, untuk mendapatkan uang tambahan. InsyaAllah konsistensi saya menulis di blog ini akan terus dipertahankan. Berjalan dari Stasiun Tebet hingga Pasar Jatinegara pun terkadang saya lakukan agar mengirit ongkos. Ya, hidup itu memang berat. Jangan manja.

Life is hard. Always.

Usaha saya tidaklah sampai di situ. Saya seringkali ke kampus UI di Depok untuk latihan tes IELTS bersama teman-teman yang dulu les di Pare. Kalau dipikir, untuk apa mondar mandir rumah-Jatinegara-Depok-rumah cuma untuk mengusahakan sekolah lagi. Ya, namanya juga berusaha. Saya dibiasakan untuk tak hanya bermimpi namun merealisasikannya. Komitmen ini saya pegang hingga akhirnya memasrahkan hasilnya pada Allah. Alhamdulillah hasil ujian IELTS saya sudah mencukupi untuk mendaftar ke kampus tujuan dan beasiswa.

Kembali merenungi perjalan-perjalanan panjang menuju dan tinggal di Denmark membuat saya lebih banyak bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah. Salah satunya adalah dikelilingi oleh orang baik. Terimakasih sudah mengirimkan orang-orang baik hati yang ada di hidup saya.

Saya hanya ingin berbagi cerita sedikit. Semoga sahabat blog yang sedang berjuang dalam hidup juga terus semangat karena sesungguhnya tidak ada yang tidak mungkin. Sudah 1 bulan saya di kota Copenhagen. Sejujurnya hidup jauh dari keluarga tidaklah mudah apalagi mengemban amanah besar untuk Indonesia. Banyak kesulitan yang dihadapi dari urusan kampus hingga kehidupan pribadi. Namun, inilah waktu saya untuk belajar menghadapi hidup yang sesungguhnya di mana Allah akan selalu bersama setiap hambaNYA disamping keluarga dan teman terdekat.

Setelah menumpang di ruang tamu teman selama 2 minggu alhamdulillah saya sekarang sudah mendapatkan tempat tinggal tetap hingga 6 bulan ke depan. FYI, mencari tempat tinggal di sini tak semudah di Indonesia. Selain biaya sewa kamar yang mahal, uang deposit juga tak kalah memusingkan. Walaupun demikian, fasilitas yang didapatkan sesuai dengan harga yang ditawarkan.

Naik sepeda? Sudah.
Nyasar? Sudah.
Bingung? Pasti.
Mengeluh boleh, namun jangan keterusan!

Saya jadi teringat ketika di hari Senin saya berangkat ke kampus dengan sepeda. Lalu lalangnya sepeda yang sangat padat membuat saya terdiam sambil meneguk sebotol air putih layaknya orang gugup akan bertemu dengan seseorang. Pemandangan ramainya orang bersepeda ini hanya dapat saya nikmati di pagi atau sore hari. Belum lagi kalau malam banyak yang menyalakan lilin ketika bersama keluarga atau kerabatnya di rumah. Bagi saya ini romantis. Ah begini saja saya anggap romantis, cupu sekali saya. Masih banyak romantisme kota Copenhagen yang menarik untuk diceritakan. Semoga sahabat blog mau mendengarnya dilain kesempatan.

Salam,
H.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Privat les IELTS di Pare

1 Tahun di Eropa

Mudahnya Pinjam Buku di Denmark