Sindang Barang dan Filosofi Kehidupan

Bogor tak hanya terkenal dengan julukan sebagai kota angkot. Selain itu, Bogor juga merupakan tempat belajar tentang sejarah, budaya, dan kehidupan. Pada liburan long weekend kali ini saya dan beberapa teman menghabiskan waktu di Kampung Budaya Sindang Barang di Desa Pasir Eurih.

Lumbung padi di Sindang Barang

Perjalanan menuju lokasi terbilang cepat karena menggunakan commuterline tujuan akhir Stasiun Bogor. Ada beberapa pilihan setelah tiba di stasiun namun, saya memilih untuk menggunakan angkot agar lebih murah. Setengah jam berada di angkot 02 dan 03 (dengan tulisan SBR) akhirnya saya tiba di Kampung Budaya Sindang Barang, Kecamatan Tamansari. Bah Ukat, tour guide pada hari itu, sudah menunggu dan mempersilahkan untuk menikmati coffee break.

Setelah puas dengan meneguk teh panas dan pisang goreng sebagai camilan, kami mulai perjalanan menuju situs purbakala jaman Kerajaan Padjajaran. Sindang Barang adalah nama yang diberikan oleh seorang putri dari Keraton Galuh. "Sindang" berarti berhenti dan "Barang" artinya adalah keramaian. Golongan tua dari Kerajaan Padjajaran menuju ke Desa Pasir Eurih dan yang muda pergi ke Banten ketika ada konflik saudara," kata Bah Ukat.

Batu Karut adalah situs purbakala yang pertama dikunjungi. Masyarakat memberikan nama "karut" karena lokasinya yang dulu masih tertutup oleh tanaman. Dalam bahasa sunda, karut berarti tidak terlihat. Batu Karut berukuran sangat besar dan digunakan sebagai tempat meditasi atau semedi karena menghadap ke arah matahari terbit, timur. Selain itu, Batu Karut berada di muncak manik yang berarti lebih tinggi dari lokasi disekitarnya. Hal ini menyebabkan adanya energi besar karena letaknya di puncak sehingga baik jika digunakan sebagai tempat meditasi.


Batu Kursi
Sesaji
Ketika ada yang melakukan meditasi, biasanya terdapat sesaji yang disediakan. Saya baru tau dari penjelasan Bah Ukat kalau jenis sesaji yang disediakan itu memiiki filosofi kehidupan. Adanya sesaji digunakan untuk koreksi diri sendiri tentang keseimbangan dalam hidup. Kehidupan pasti ada manis dan pahit. Nah, sebagai manusia, bagaimana kita menghadapinya?

Adanya air teh dan air putih melambangkan kesalahan dan kebaikan dalam setiap prilaku manusia. Contoh lainnya adalah bunga 7 jenis. Bunga identik dengan bau wangi yang dihasilkan dan dalam kehidupan jika kita berbuat baik setiap saat (7 melambangkan jumlah hari) maka akan harum seperti bunga. Nah yang terakhir adalah buah 7 macam. Kita sebagai manusia harus belajar dari buah yang tersedia di alam dan dapat dikonsumsi oleh semua makhluk hidup tanpa kecuali. Sebagai manusia yang memiliki ilmu dan rizki maka kita harus bisa berbagi dengan siapa saja. Alam sudah mencontohkan maka manusia harusnya dapat berbuat kebaikan dan belajar dari alam. "Kehidupan Sunda banyak yang mengkaji dari alam," kata Bah Ukat mengakhiri penjelasannya.

Situs ke-2 adalah Batu Kursi yang mirip tempat duduk. Dahulu, penobatan setiap raja dilakukan di Batu Kursi. Situs ini terletak di dalam rumah salah satu warga. Saya sempat bingung mengapa situs ini berada di sana. Bah Ukat bercerita, dahulu batu yang biasa digunakan sebagai tempat pengukuhan raja ini belum ditemukan hingga akhirnya pada tahun 2006 ada peneliti dari Universitas Indonesia yang mulai mengeksplorasi.

Sebenarnya masih banyak tempat yang dapat dikunjungi seperti Taman Sri Bagenda dan Mata Air Jalatunda. Sayang sekali kami tidak berkunjung ke sana. Bah Ukat menyarankan untuk berkunjung ke Sindang Barang pada bulan Januari atau ketika memasuki bulan Muharam. Ada banyak kegiatan yang dilakukan di Sindang Barang seperti ritual panen padi dan ngebungbang. Kita dapat menyaksikan budaya ngabungbang atau yang berarti mandi di malam hari.

Tidak perlu khawatir jika ingin menginap karena kita dapat merasakan sejuknya udara pegunungan dari pagi hingga pagi lagi di sana. Sudah tersedia delapan rumah yang dapat di sewa untuk menampung sekitar 60 hingga 70 orang. Fasilitas seperti mushola dan kamar mandi di sana bersih dan nyaman sehingga saya pun betah berlama-lama di sana.


Penginapan yang tersedia


Menu makan siang khas Sunda


Sudah ada biro wisata yang menawarkan paket lengkap untuk berlibur ke Sindang Barang. Waktu itu saya mengikuti one day tour dengan berbagai macam kegiatan selain jalan-jalan ke situs sejarah. Belajar menanam padi, bermain permainan tradisional, belajar menumbuk padi, membuat wayang dari padi kering, dan belajar seni beladiri cimande. Sebenarnya ada belajar tari jaipong namun karena tidak ada yang latihan jadi batal. Saya belajar banyak hal ketika pergi ke kampung budaya di kota Bogor ini termasuk bersabar dalam mencoba permainan egrang.

"Hidup itu selalu berdampingan dengan alam, maka belajarlah dari alam untuk hidup yang lebih baik." -HPH

Comments

Popular posts from this blog

Privat les IELTS di Pare

1 Tahun di Eropa

Mudahnya Pinjam Buku di Denmark