Menikmati Ritme Ruang Jakarta


Sabtu, 28 November 2015, tiba-tiba ada suara bising kendaraan bermotor di luar tempat saya dan kedua teman saya berada, Komunitas Salihara. Kita bertiga datang ke Salihara untuk melihat pertunjukan volution/ groove space dari Sebastian Matthias dalam rangka Jerman Fest di Indonesia. Mengapa saya mau menonton groove space ini? Karena pertunjukkan ini hanya akan ditampilkan perdana di Jakarta sebagai kota inspirasinya.

Saya dan individu yang tinggal di daerah urban mungkin memiliki sensitivitas tinggi dalam memberikan respon berbagai dinamika di lingkungan sekitar. Groove space adalah rangkaian penilitian dan pertunjukkan yang dimuai dari proyek kolaborasi di Berlin dan sudah dilaksanakan di Zurich dan Freiburg. Setelah ibu kota Indonesia, seni pertunjukan ini rencananya akan dibuat di Dusseldorf, Tokyo, dan Hamburg. Di kota-kota itulah Sebastian Matthias, koreografer dan peneliti tari kontemporer, mengkaji hubungan antara ruang perkotaan, tubuh, gerakan, dan ritme.

Suara bising kendaraan bermotor ternyata menandakan bahwa rangkaian acara sudah dimulai. Ada 6 penari yang terlibat dalam pementasan ini yaitu Jubal Battisti, Lisanne Goodhue, Zen Jefferson, Deborah Hofstetter, Isaac Spencer, dan Harumi Terayama. Setelah para penari wanita turun dari motor, mereka mulai menari sambil mengajak pengunjung menaiki tangga menuju rooftop dengan lantai rumput asli beserta tanahnya. Mereka menari diiringi suara bising kerndaraan bermotor dan bergerak diantara pengunjung yang datang. Pengunjung terus "dibuat" mengikuti gerak penari seakan mengajak menuju suatu tempat pertunjukan tersembunyi.


Lisanne Goodhue


Harumi Terayama
Setelah rooftop, saya diajak berjalan munuruni anak tangga bersama Isaac Spencer, ko-koreografi lulusan Julliard School, yang menggunakan stiletto berwarna biru. Pengunjung dibuat mengelilingi lokasi sambil terus bergerak menuju ruang pertunjukkan utama. Memasuki ruang pertunjukkan asap putih, yang membuat saya sempat hilang arah karena teman saya tertinggal di belakang, sudah menyambut sampai akhirnya pengunjung masuk ke sebuah ruang instalasi yang sudah didesain oleh perupa Iswanto Hartono.

Ada hal unik dari seni groove space ini yaitu tidak ada panggung. Di ruang pertunjukkan utama, para penari dan pengunjung berada bersama tanpa batas yang biasanya memisahkan penampil dan para penonton. Saya dan pengunjung lainnya bergerak bersama dengan penari yang didukung oleh seniman intervensi Irwan Ahmett dan Tita Salina. Pertunjukannya begitu atraktif ketika Zen Jefferson dan lima orang rekannya seperti mengelilingi seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri sendirian. Penonton menari bersama ketika mendengar musik dangdut diputar dan terus bergerak mengikuti gerak dinamis para penarinya yang terus berpindah. Instalasi bunyi dan komposisi musik saat pertunjukan dibuat oleh kelompok seniman muda "Cut and Rescue" yang menyesuaikan dengan hal-hal di Indonesia seperti musik dangdut dan suara-suara yang terdapat di ruang-ruang urban Jakarta.

Tidak hanya konsep dan pertunjukkan yang membuat saya terlarut dalam menikmati hari saya di akhir bulan November. Kostum yang dipakai oleh penari membuat saya penasaran dan ternyata adalah buah karya Didiet Maulana. Paduan warna hitam dan tenun ikat sukses mendukung performa mereka. Cahaya lampu ruangan yang digarap oleh Ignatius "Clink" Sugiarto memberikan kesan berbeda. Namun, saya sempat kehilangan fokus karena para penari bergerak dengan cepat diantara pengunjung yang ada. Pertunjukkan dengan durasi 2 jam ini sukses membuat salah satu teman saya menjadi ketagihan ingin menonton pertunjukan seni tari lainnya. Saya juga, pastinya!
*Thank you Evan for the pictures!

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Privat les IELTS di Pare

1 Tahun di Eropa

Mudahnya Pinjam Buku di Denmark