Mengabdi Melalui Nusantara Sehat

Hari Senin, 13 Oktober 2015 lalu saya meluangkan waktu untuk datang di Hotel Artotel Thamrin pada acara Temu Blogger #SahabatJKN untuk mengenal lebih dekat program Nusantara Sehat. Walaupun acara ini di Jakarta, saya tetap semangat datang dari kota domisili saya, Purwokerto. Sebagai tenaga medis, saya sangat penasaran dengan program ini karena tidak hanya saya namun banyak teman-teman saya yang ingin bergabung bersama Nusantara Sehat.

Acara yang digagas oleh Pusat Komunikasi Publik Kementrian Kesehatan (Kemenkes) ini dimulai tepat waktu pada pukul 10.00 WIB. Sebagai salah satu tenaga medis, saya sudah tau adanya program Nusantara Sehat sejak awal tahun ketika proses seleksi batch pertama pada Mei 2015 tetapi saya belum bisa mendaftar karena belum memiliki Surat Tanda Teregistrasi (STR) sebagai ahli gizi (curhat).

Ibu Murti Utami selaku Kepala Pusat Komunikasi Publik membuka acara pada hari itu dan mengucapkan terimakasih kepada blogger #SahabatJKN yang setia mengikuti dan mendukung acara Kemenkes. Selain itu, Ibu Ami juga menjelaskan secara singkat mengenai program Nusantara Sehat. Program ini adalah wujud nyata dari pemerintah yang bertujuan untuk menguatkan Pelayanan Kesehatan (Yankes) Primer dari Kemenkes untuk periode tahun 2015-2019.

Ibu Ami membuka acara #SahabatJKN
Acara selanjutnya adalah diskusi bersama mas Anjari Umarjianto, Kepala Opini Publik Komunikasi Publik Kemenkes, sebagai moderator yang membuat acara menjadi semakin seru dan menarik. Blogger makin semangat mengikuti talkshow dengan narasumber Bang Maman Sudarman dan Mbak Diah Saminarsih yang  dimulai dengan pemutaran video mengenai penjelasan Nusantara Sehat.

Mbak Diah, staff bidang Kemitraan dan Sustainable Development Goals, menjelaskan lebih rinci mengenai Nusantara Sehat. Sesuai dengan Nawa Cita "Membangun dari Pinggiran" program ini tidak hanya berfokus pada tindakan kuratif namun juga promotif dan preventif dimulai dari daerah-daerah pinggiran Indonesia yang paling membutuhkan.

Mengapa dimulai dari daerah-daerah pinggiran? Hal ini merujuk pada pemahaman jika masyarakat pinggiran pada daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan seringkali tidak terjangkau oleh tenaga kesehatan. Lokasi penerjunan tidak main-main terpencilnya, Mbak Diah bercerita kalau harus menggunakan perahu ketingting bahkan kuda selama berjam-jam. Dari sini saya mulai membayangkan betapa beratnya medan kerja yang dihadapi bersama Nusantara Sehat selama dua tahun. Ya, dua tahun adalah masa kerja dilokasi target jika tergabung dalam tim. Setelah tim melakukan pengabdian selama 2 tahun maka akan ada monitoring dan evaluasi dari Kemenkes yang dilanjutkan dengan masa transisi tim selanjutnya sehingga program terus belajut.

Diskusi bersama Bang Maman dan Mbak Diah
Target dari program Nusantara Sehat pada tahun 2015 ini adalah 120 puskesmas dengan kriteria tertentu di 44 kabupaten dengan mengirimkan 960 tenaga kesehatan yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari 6000 pendaftar pada batch 1 saat ini sudah diterjunkan 143 tenaga kesehatan. Jumlah yang banyak pada pendaftaran pertama. Hal ini membuktikan masih ada pemuda-pumudi bangsa yang peduli dengan kesehatan walaupun lokasi tugasnya bukan di kota metropolitan yang serba ada seperti Jakarta.

Dalam 1 tim penerjunan biasanya terdiri dari 9 orang, namun terkadang hanya 8 orang saja karena hingga kini baru 13 orang dokter yang bergabung bersama. Berikut adalah daftar tenaga kesehata yang dapat berpartisipasi dalam Nusantara Sehat:
  1. Dokter
  2. Dokter gigi
  3. Perawat
  4. Bidan
  5. Tenaga gizi
  6. Tenaga kesehatan lingkungan
  7. Ahli teknologi laboratorium medik
  8. Tenaga kefarmasian
  9. Tenaga kesehatan masyarakat
Mas Andari mengajak diskusi Bang Maman mengenai pandangannya mengenai Nusantara Sehat. Menurut beliau, program ini merupakan sebagian kecil dari banyaknya program-program pemerintah namun dampaknya bisa sangat besar bagi masyarakat. Beliau memberikan contoh jika masih banyak masyarakat di Indonesia yang tidak tahu cara konsumsi pil KB dengan benar. Dengan adanya Nusantara Sehat, paling tidak pengetahuan masyarakat mengenai hal-hal sederhana dapat bertambah yang efeknya pasti akan terasa nantinya. Keterlibatan #SahabatJKN dalam acara temu blogger ini juga diapresiasi Bang Maman karena memanfaatkan sosial media untuk menyebarkan informasi mengenai Nusantara Sehat.

"Buktikan cinta pada Indonesia dengan mengingatkan pada pihak terkait (tenaga kesehatan) dengan adanya program Nusantara Sehat." -Bang Maman

Untuk lebih membuka mata, blogger juga melihat video dari salah satu tim Nusantara Sehat yaitu Mbak Putri Indah Nurmala yang ditempatkan di Long Pahangai, sebuah daerah yang terletak di Kabupaten Mahakam Hulu, Kalimantan Timur. Untuk sampai ke lokasi Mbak Putri saja dibutuhkan waktu 9 jam dari Samarinda dan 6 jam di air. Mungkin kalau disamakan, bisa PP Jakarta-Purwokerto dalam sehari.

Mbak Putri dan tim nya harus 8 kali bolak balik dalam sebulan agar puskesmas keliling tetap berjalan. Untuk mencapai target lokasi, Tim Nusantara Sehat harus menempuh perjalanan selama 6 jam menggunakan perahu. Apakah perjalanan mereka selalu lancar? Jawabannya sudah pasti tidak. Mbak Putri bercerita ketika perahunya mati di tengah Sungai Mahakam saat malam hari karena bahan bakarnya habis. Saya salut dengan Mbak Putri dan teman-teman lainnya yang bisa bertahan hingga sekarang. Motor mati karena lupa isi bensin di jalan raya yang rame aja sudah bikin saya pusing dan bingung, apalagi kalau kejadiannya di sungai?

Sesi acara terakhir adalah tanya jawab dengan Bang Maman dan Ibu Ami. Banyak bogger yang menanyakan pertanyaan seputar Nusantara Sehat. Yang paling saya ingat diingatan adalah tentang cinta lokasi.

"Apakah ada yang terjebak dalam cinta lokasi? Mengingat waktu penerjunan 2 tahun bukan waktu yang sebentar." Tanya seorang blogger #SahabatJKN
Dengan tegas dijawab oleh Ibu Ami, "Tidak. Karena mereka sudah berkomitmen untuk membangun bangsa dan bertugas dalam tim Nusantara Sehat."

Saya melihat totalitas dari tenaga-tenaga kesehatan ini. Saya langsung berfikir pasti yang terpilih adalah orang-orang pilihan dengan komitmen yang luar biasa. Dari proses seleksi sampai terpilih, peserta melewati beberapa tahap seperti recruitment secara online, wawancara, tes psikologi serta focus group discussion (FGD), dan pembekalan selama kurang lebih 5 minggu sampai akhirnya terpilih menjadi bagian Nusantara Sehat. Proses seleksi dibuat agar Kemenkes dapat mengetahui karakter pelamar dan komitmennya terhadap kegiatan membangun bangsa selama 2 tahun ini.

Oh ya, yang tidak kalah penting adalah STR seperti yang saya sebutkan di atas. Itu menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi pelamar. Sekarang sudah memasuki proses seleksi batch ke-2 dengan total pelamar sebanyak 12.000 Semoga banyaknya pelamar menandakan kalau masih banyak pemuda-pemudi Indonesia yang mau bekerja membangun bangsa dengan bekerjasama bersama tenaga professional lainnya untuk menguatkan layanan kesehatan.

"Mengabdi adalah panggilan hati. Apalagi dapat berkontribusi dengan ilmu gizi. Kamu ahli gizi? Sekarang saatnya berbakti pada Bumi Pertiwi." -HPH

Comments

Popular posts from this blog

Privat les IELTS di Pare

1 Tahun di Eropa

Mudahnya Pinjam Buku di Denmark