Bakwan Malang ala Semarang

Bakwan Malang seperti namanya sudah bisa diasumsikan bahwa makanan ini berasal dari Kota Malang. Saya sejujurnya belum pernah singgah ke kota yang terkenal dengan komoditas apelnya itu jadi belum bisa merasakan ke-aslian bakwan malang. Bakwan sendiri dalam pikiran saya adalah gorengan dengan sayuran berupa wortel, kubis, dan kecambah. Itulah makanan jenis bakwan di tempat saya dibesarkan, Purwokerto. Karena belum pernah mencoba bakwan malang langsung di Malang, ternyata di Semarang ada beberapa jajanan kaki lima yang menjajakan bakwan malang.

Salah satu dari tiga penjual bakwan malang yang sudah pernah saya cicipi adalah bakwan malang arema Udinus. Begitu saya menyebutnya karena si penjual meminggirkan gerobak dagangannya di area kampus Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang.


Setelah 4 tahun menetap di Semarang, saya baru tahu ada bakwan malang semurah bakwan malang Udinus dari sepupu saya yang kuliah di sana. Benar-benar malang nasib mahasiswa seperti saya yang selama ini merogok kocek mahal untuk bakwan malang. Penjualnya adalah sepasang suami istri. Suaminya agak sedikit tertutup dan malu saat saya bertanya mengenai dirinya dan tentu jualannya. Istrinya, Mba Emi, lebih terbuka untuk bercerita dan lebih narsis untuk diabadikan fotonya.

Suami istri asal Boyolali, Jawa Tengah ini mulai menuju ke depan Gedung C Kampus Udinus sekitar jam 16.00. Gerobak hijau miliknya parkir di "pengkolan" dekat parkiran dan langsung diserbu mahasiswa. Mahasiswa-mahasiswa kelaparan ini langsung memenuhi gerobaknya hingga penjualnya mengalah untuk menyingkir.

Bakso besar? ludes!

1 porsi seharga Rp 6.000,-

Satu porsi bakwan malang dapat dipesan mulai dari Rp 5.000,- hingga Rp. 8000,- atau bahkan sesuka hati. Saya lebih suka menu sesuka hati karena ambil sendiri, lalu dihitung oleh si bapak bertopi dan pastinya bayar sendiri. Mba emi menyediakan tiga pilihan harga untuk dagangannya. Harganya mulai dari Rp 500,- (mie, tahu kulit, pangsit goreng, pangsit basah, dan bakso ikan goreng yang berada di etalase berkaca), Rp 1.000,- (bakso halus dan bakso urat yang berukuran kecil), dan Rp 3.000,- (bakso dengan ukuran yang lebih besar). Selain kuah yang panas, bakwan malang ini juga dilengkapi dengan daun bawang dan bawang merah goreng. Satu porsi yang biasa saya makan kalau sedang kelaparan bisa mencapai Rp 10.000 dengan satu mangkong berisi penuh bakso.

Tipe pembeli sesuka hati
Mba emi dan suaminya sudah mulai berjualan dari tahun 2012 namun "masih ikut orang". Jadi setiap harinya dia harus menyetor kepada bosnya. Masih tega minta gratisan pangsit? Hehe. Terkadang saya suka iba lihat kalau ada beberapa mahasiswa minta ditambah gratisan pangsit tapi ya namanya juga mahasiswa. Suami istri ini tidak hanya berjualan berdua karena dibantu satu orang asisten yang membuat minum dan mencuci mangkok-mangkok yang sudah kotor. Kalau asistennya tidak masuk maka mba emi dan suaminya menjadi kewalahan melayani pelanggan yang menyerbu.

Jika anda bukan tipe penikmat street food yang militan maka saya tidak merekomendasikan makan di sini. Tempatnya sangat sederhana yaitu gerobak bakso dengan terpal seadanya dilengkapi beberapa kursi tanpa meja dan karpet berwarna biru untuk yang mau lesehan. Walaupun tidak ada meja, anda tidak perlu khawatir kepanasan saat memegang mangkok baksonya karena disediakan tepak atau sejenis piring plastik kecil sebagai alasnya. Anda bisa memesan minuman alakadarnya seperti teh, jeruk, air putih atau bisa bawa minum sendiri kalau mau hemat.


Walaupun tempatnya sederhana namun bakwan malang ini tak pernah sepi pengunjung. Biasanya jam 18.30 pengkolan ini sudah sepi alias sudah ludes bakwan malangnya. Waktu yang tepat untuk makan di sini adalah jam 16.30 ketika semua jenis makanannya masih lengkap dan belum begitu ramai. Jika anda melewatkan jam emas tadi maka anda tidak akan kebagian bakso Rp 3.000,- karena hanya disediakan sedikit dan paling laris diantara yang lain.

Masih bingung mau makan bakwan malang di mana? Ragu akan kenikmatannya? Silahkan tanyakan teman anda yang kuliah di Udinus! Salam kuliner, tetap sehat walau nikmat.

Comments

  1. ko yo ndelalah aku leh moco dalam kondisi perut kosong, jadi laper num! :9

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Privat les IELTS di Pare

1 Tahun di Eropa

Mudahnya Pinjam Buku di Denmark