Ketika AirAsia Membuat Impianku Jadi Nyata

Naik pesawat bisa jadi cuma sebatas impian yang aku tulis di sebuah buku.

Cerita ini berawal dari sebuah buku milik bersama yang ditulis Aku, Angky, Ibnu, dan Fachreza. Kami kuliah di Semarang, Jakarta, Yogyakarta, dan Purwokerto. Kami dibesarkan di Purwokerto, kota yang tidak mempunyai lapangan terbang. Seumur hidup aku cuma pernah naik pesawat palsu di Museum Dirgantara, Yogyakarta.

Untuk melepas rindu, kami berempat saling bertukar cerita melalui tulisan di buku yang secara bergilir dikirim. Buku itu berisi kisah masa kuliah dan impian yang coba kami wujudkan. Setelah dua tahun menulis, aku dan Angky memliki keberanian untuk mewujudkan impian kami yaitu keluar negeri untuk melihat dunia baru yang belum pernah kami lihat dan tentunya naik pesawat.

Aku dan Angky rela menabung setiap bulan demi mewujudkannya. Aku rajin makan nasi dan sayur bukan semata-mata agar tubuhku sehat, namun untuk naik pesawat. Dibenakku tiket pesawat itu mahal. Walaupun sudah menabung, aku takut masih kekurangan uang. Ternyata setelah aku berkenalan dengan maskapai AirAsia, bayangan tiket yang mahal pun sirna. Maskapai ini memberikan harga yang sangat terjangkau (terutama bagi mahasiswi seperti aku) dengan promo yang ditawarkan untuk pergi ke beberapa destinasi. Aku semakin yakin akan segera mewujudkan impianku dengan AirAsia bersamaku. Berbekal kartu kredit pinjaman akhirnya tiket berangkat ke Singapore dan pulang dari Malaysia yang total harganya IDR 400.000 sudah digenggaman.


Aku berangkat menuju terminal 3 bandara Soekarno Hatta (Soeta) 6 jam lebih awal karena situasi Jakarta yang sedang banjir. Setelah melakukan proses imigrasi akhirnya duduklah aku di kursi maskapai penerbangan pertamaku, AirAsia. Maskapai yang membantu mewujudkan impianku untuk naik pesawat dan menjelajahi negeri orang. Saking senangnya aku sampai bersenandung dalam hati..

A whole new world, A dazzling place I never knew. But when I’m way up here, it’s crystal clear. That now I’m in a whole new world with you. Unbelievable sights. Indescribable feelings. Soaring, tumbling, freewheeling. Through an endless diamond sky
-A whole new world- Alladin

Liburanku tidak semulus seperti yang aku rencanakan. Banyak kendala yang ditemui. Salah satunya adalah masalah uang. Uang yang sudah disiapkan akhirnya aku gunakan untuk masuk ke pusat hiburan di Sentosa Island, so unexpected. Untung saja Angky membawa uang lebih jadi semuanya terkendali. Namun aku harus tetap berhemat. Harga makanan yang mahal membuat kami selalu membawa bekal roti gratis yang didapat dari hostel untuk makan siang. Malamnya kami makan sepiring berdua. Bukan ajang romantisme. Ini karena keadaan dan sukses membuat berat badan kami turun 4 kg.

Setelah puas berada di Singapura selama 3 hari kami melanjutkan petualangan menuju negeri Jiran, Malaysia. Aku berharap harga makanan di sana lebih ramah dikantong sehingga tidak perlu lagi mengencangkan ikat pinggang.

Setelah seharian menggendong backpack dan berkeringat, alergiku muncul. Ini membuatku sukses terkapar di kamar hostel. Uangku terkuras lagi untuk membeli obat. Untung saja harga makanannya lebih bersahabat. Hari ke-2 kami hanya pergi ke Petailing Street untuk membeli oleh-oleh. Cukup tempelan magnet di kulkas. Yang penting judulnya oleh-oleh.

Sambil melihat-lihat, aku memberanikan diri menawar pada salah satu pedagang. Perawakannya mungil dengan rambut pendek keriting dan dia menggunakan dress warna abu-abu. Baru aku mau mulai menawar, datang seorang Ibu bertubuh tambun menyela.

“Aku arep balek, titip kanggo anakku ya.” Kata Ibu tambun.
“Yo deleh wae neng kono.” Balas si pedagang wanita.

Ternyata itu adalah Bahasa jawa khas Jawa Timur. Dengan berani aku menjadi sok akrab. Setelah mengobrol akhirnya kami memutuskan untuk makan bersama Ibu tambun. Entah rejeki atau apa, si Ibu yang notabenenya orang Trenggalek itu akhirnya mentraktir makan siang. Ibu tambun akhirnya dipanggil dengan sebutan “mami” karena gayanya yang kekinian. Banyak pesan dan nasihat mami untuk aku dan Angky selama di negeri orang. Persis seperti ibu menasihati anak gadisnya.

Angky dan Mami

Karena belum selesai berbelanja akhirnya kami kembali ke pedagang tadi dan berpisah dengan mami. Sesampainya di sana, hujan badai mengguyur dan alhasil kami berteduh di kiosnya. Arum sari, wanita yang sudah 17 tahun merantau di Malaysia itu enggan kembali ke Indonesia karena alasan pekerjaan. Ini adalah rejeki yang ke-2. Tiba-tiba suaminya membelikan ayam goreng tepung dari restoran cepat saji untuk kita bertiga. Singkat kata, mba Arum menasihati tentang liburan.

“Buat apa jauh-jauh keluar negeri kalau negeri sendiri juga belum semuanya kamu kunjungi.”

Mba Arum dan ayam goreng tepungnya
Kata-katanya membekas diingatanku. Sejak itu hingga kini aku belum pernah pergi keluar negeri dan naik pesawat lagi.

Hari ini adalah hari terakhir kami. Karena pesawat berangkat pada sore hari, kami memutuskan untuk menjelajahi tempat sekitar hostel. Berpedoman pada peta yang diambil dari Stasiun KL Sentral, kami mulai menapaki wilayah Brickfields. Kami melihat sebuah kuil yang masih terlihat sepi pagi itu.

Ketika sedang asyik melihat kuil tiba-tiba perutku berkontraksi. Aku sudah tidak kuat dan rasanya melilit seperti ada ular kobra meliuk-liuk di perutku. Lokasi hostel yang jauh tidak memungkinkanku berlari dengan perut yang bergejolak. Angky langsung bertanya pada petugas kebersihan di depan sekolah. Dengan baik hati petugas itu menyarankan untuk masuk ke sekolah. Sekolah? Apakah orang asing seperti kami diijinkan masuk? Angky langsung bernegosiasi dengan penjaga pos keamanan sekolah tersebut dengan bahasa Melayu alakadarnya yang dipelajari dari serial Ipin Upin. Akhirnya aku diijinkan untuk menumpang buang hajat di sekolah tersebut. Seusai buang hajat, kami kembali ke hostel.

Di depan sekolah

Di hostel aku membuka situs jejaring sosial untuk memberi kabar pada Ibnu dan Fachreza. Mereka penasaran dengan pengalamanku ketika naik pesawat. Aku jadi teringat pesan mereka.

“Num, nanti kalau mau masuk pesawat, sandalnya jangan dilepas ya,”. Nasihat itu sama saat aku akan naik lift. Untung saja aku tidak mabok udara ketika naik pesawat.


Aku dan Angky bergegas menuju bandara KLCC untuk pulang ke Indonesia. Ternyata quotes di buku travelling itu benar. Travelling is the only thing you buy that makes you richer”. Travelling membuatku menjadi lebih kaya. Bukan kaya harta tetapi kaya akan pengalaman, pengetahuan, dan teman baru. AirAsia memberikan perubahan dalam SAR. Kami lebih banyak menulis mengenai rencara liburan daripada sekadar “galau” karena kuliah atau percintaan.

Terwujudnya satu impianku di selembar kertas dalam SAR membuatku lebih percaya diri untuk mewujudkan impianku yang lain. Terimakasih AirAsia sudah membantu mewujudkan salah satu impianku yang sebelumnya terlihat sulit untuk kugapai.




*Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Kompetisi Blog 10 Tahun AirAsia Indonesia, dengan tema Bagaimana AirAsia Mengubah Hidupmu. Hadiahnya menarik yaitu perjalanan ke Nepal, Penang dan Bali! Awesome! yang mau ikutan silahkan gabung di sini!


Comments

  1. anak muda,
    travelinglah sebelum menyesal.
    bagi anda anak muda, segeralah mengepak tas dan jelajahi dunia sebelum terlambat.
    karena terdapat survey , 75 % org diatas 35 tahun menyesal tidak sering liburan sewaktu muda

    ReplyDelete
    Replies
    1. baik segera dilaksanakan traveling selagi muda agar tidak menyesal hehe

      Delete
  2. Emang traveling itu adalah bagian hidup. So..jangan sia2in selagi muda..okee.

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha siap nu. someday kita juga harus traveling ya bro!

      Delete
  3. Waaaahh.. Pasti berkesan banget yaa... Semoga cerita travelingnya terus berlanjut menjadi kedua, ketiga, sampai keseribu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi iya budi pertama kalinya sih naik pesawat. dusun banget ya? amin budi. semoga ada cerita lainnya yang diposting

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Privat les IELTS di Pare

1 Tahun di Eropa

Mudahnya Pinjam Buku di Denmark