Kaki Lima Dahulu, Sekarang, dan Nanti

“Jangan makan di pinggir jalan, Nak. Tempatnya kotor dan tidak bersih.” kata Mamah saat aku merengek minta jajan di pinggir jalan.


Kalimat itu masih teringat di ingatanku. Himbauan mamah padaku seakan mulai terkikis waktu. Sekarang aku tak pernah absen singgah di tempat makan pinggir jalan ketika makan. Mungkin itu adalah kalimat yang sering diucapkan orang tua ketika seorang anak merengek minta jajan di pinggir jalan. Kebersihan yang kurang dipedulikan penjual membuat beberapa konsumen enggan melirik untuk mencicipi makanan jualannya.


Makan di pinggir jalan bagi sebagian orang tidak menjadi masalah namun terkadang karena kurangnya penerapan sistem higienis dan sanitasi oleh pedagang, faktor kebersihan menjadi masalah yang harus diperhatikan. Seperti sepenggal kalimat himbauan Mamah pada seorang anaknya. Sedikit miris melihat beberapa kaki lima yang kurang menjaga kebersihan padahal dalam berjualan makanan kebersihan adalah prioritas selain rasa makanannya. 


Kaki lima adalah sebutan lazim untuk penjual di pinggir jalan. Mengapa disebut kaki lima? Karena selain bertumpu pada kedua kakinya, penjual juga bertumpu pada ketiga kaki penyangga lapak dagangannya. Di luar negeri sering disebut street food, di Indonesia pedagang di pinggir jalan (dalam hal ini maksudnya adalah pedagang makanan) disebut kaki lima.


Dahulu kaki lima di Indonesia didominasi oleh ragam olahan pangan tradisional seperti sate, ketoprak, gado-gado, gorengan, penyetan, kue putu, es dawet, es kuwud, dsb. Namun, sekarang kaki lima tidak hanya menyajikan pangan seperti itu saja. Ada juga menu “wah” seperti sushi dan steak. Ini jelas mempengaruhi pola konsumsi masyarakat dan kesehatannya. Pola konsumsi masyarakat yang notabene dipengaruhi oleh dua hal, yakni ketersediaan dan kemampuan daya beli, berubah seiring menjamurnya kaki lima. Ketersediaan yang melimpah dan harga murah yang ditawarkan oleh kaki lima karena lokasinya yang ada di sepanjang jalan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.


Yang menarik, target pasar penjaja kaki lima di Indonesia pun mulai bergeser dari kalangan bawah menuju ke kalangan menengah ke atas. Paradigma lama bahwa makanan yang dijual di kaki lima seringkali kotor dan tidak mengandung gizi pun mencoba mereka ubah. Kini para penjaja kaki lima membenahi dagangannya. Mereka sadar hal tersebut adalah sumber penghidupan keluarga sehingga mereka tidak mau terkesan asal-asalan yang mengakibatkan pembeli enggan melirik, apalagi membeli dagangannya.


Tak bisa dipungkiri, gencarnya pemberitaan televisi nasional mengenai makanan di Indonesia adalah salah satu penyebab pergeseran pasar pedagang kaki lima. Kenyataannya, makanan yang disajikan di kaki lima dari segi rasa bisa diadu dengan yang lain. Bahkan banyak kaki lima yang menjual janji rasa yang  seistimewa restauran bintang lima dengan tetap menawarkan harga murah yang menjadi daya tarik kaki lima. Sedikit subjektif memang. Namun kaki lima di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari konsumsi masyarakat sehari-hari. Apalagi bagi saya, seorang mahasiswa yang tinggal terpisah dari orang tua, makan di pinggir jalan bukanlah hal baru. Hampir setiap hari saya selalu membeli makanan kaki lima. Selain harganya yang ramah dengan kantong, makanan pinggir jalan menawarkan sejuta pilihan yang tidak kalah dengan makanan di food court ternama.


Miris rasanya ketika melihat pemberitaan mengenai penggusuran kaki lima oleh pihak berwajib. Entah siapa yang benar tetapi saya kira pemerintah bisa mempertimbangkan sektor usaha mandiri kaki lima. Harus ada simbiosis menguntungkan antara kedua pihak karena secara tidak langsung kaki lima memberikan pemasukan kas daerah lewat retribusi. Disisi lain kaki lima dibutuhkan oleh masyarakat untuk memenuhi konsumsi sehari-harinya. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan seharusnya lebih arif ketika menyikapi street food di Indonesia.


Street food adalah salah satu ujung tombak bangsa dalam melestarikan warisan kuliner bangsa. Cita rasa nusantara yang berbeda satu sama lainnya dapat dijumpai di penjaja street food masing-masing daerah. Tiap daerah memiliki ciri khas makanan yang disesuaikan dengan kebudayaan masyarakatnya. Di Yogyakarta mayoritas street food menjajakan masakan yang terasa manis di lidah. Hal demikian tidak akan kita jumpai jika berkunjung ke Medan yang didominasi makanan pedas. Kedua hal berbeda tadi tidak terlepas dari kebudayaan dan kebiasaan masyarakat setempat dalam mengolah makanan. Di batak sering digunakan andaliman sebagai bumbu namun Anda tidak akan merasakan rasa menggigit di lidah jika makan masakan jawa. Karena itu street food mewakili karakteristik masing-masing daerahnya.


Lebik kompleks street food berperan dalam mewujudkan ketahanan pangan. Mungkin terlalu jauh namun saya kira ini penting untuk lebih mengahargai street food yang ada di Indonesia atau bahkan di dunia. Ketahanan pangan yang dimaksud dalam hal ini adalah kemandirian pangan dari suatu bangsa. Kaki lima yang menyediakan makanan khas daerah yang berarti meningkatkan konsumsi masyarakat mengenai pangan lokal. Jika ada yang berpendapat bahwa Indonesia sebenarnya belum betul-betul merdeka mungkin saya setuju jika dikaitkan dengan pangan. Hingga kini Indonesia belum mampu mencukupi kebutuhan pangan penduduknya. Ini terbukti dengan pangan pokok yang diimpor dari negara lain untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri.  Dengan menjamurnya street food diharapkan jangka panjangnya Indonesia mampu mengurangi impor bahan makanan. Potensi pangan lokal harus lebih dikembangkan lebih luas agar masyarakat mau mengonsumsi makanan daerah.


Beraneka ragam jenis street food di Indonesia sudah sepantasnya mendapat dukungan dari pemerintah agar kualitas dan keamanannya terjamin. Selanjutnya, street food tidak hanya diharapkan memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat dan meningkatkan retribusi daerah. Namun, kualitas kesehatan masyarakat Indonesia menjadi lebih baik lewat pengelolaan street food yang memperhatikan aspek kesehatan. Dengan pandangan saya mengenai street food di Indonesia dahulu, sekarang, dan nanti membuat saya makin penasaran dengan street food yang ada di dunia. Yang pasti "Kulo Tresno Kaliyan Street Food Indonesia" :)

Comments

  1. ciyeeee
    keren abis dech tulisannya mb .,,.,
    nambah ilmu
    sip sip sip

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe terimakasih hafi :)
      hidup jajanan sehat!

      Delete
  2. Well, setuju dengan pendapat saudari, alangkah baiknya kalau UMKM seperti pedagang kaki lima dilestarikan dan 'diurus' oleh pemerintah.
    karena dilihat dari sisi ekonomi, merekalah masyarakat yang mandiri, membuka lahan pekerjaan serta memangkas angka pengangguran.

    sedikit sharing pandangan, alangkah indahnya kalau pemerintah mampu 'membudayakan' street food, misalnya dengan melokalisasikan mereka di suatu sentra makanan kaki lima layaknya dilakukan oleh negara lain seperti belanda, serta membekali mereka dengan standar kebersihan agar tercipta "green economic system"

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya gih bener banget. biar bangsa juga maju dan kebutuhan pangan masyarakatnya terpenuhi ya. terimakasih sharing nya ya!

      Delete
  3. like like like :)
    perlu d bca nih sma orang pmerithan dan pnjual di pwt.biar d pwt juga pdagang kaki limanya mmperhatikan kbersihn dan kesehatan makanan yg d jual.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya biar masyarakat juga gak ragu untuk konsumsi street food karena aman buat kita

      Delete
  4. Dari judul sampe bawah menarik.
    Jadi terpaksa mata ini membaca tulisannya sampe selesai.
    Nice info, keep sharing! (y)
    Kulo Tresno Kaliyan Street Food Indonesia lah pokoke!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe terimakasih ya
      iya pokoke lah street food Indonesia juara banget ya!

      Delete
  5. Betul, betul, betul,. saya setuju dengan tulisanmu.

    Melihat kekayaan kuliner Indonesia, menurut saya pemerintah memang harus mengontrol dan menjamin kualitas jajanan kaki lima Indonesia terutama faktor kebersihannya!.

    Saya sangat tertarik dengan kaki lima yang menawarkan menu-menu tradisional dan menawarkan gizi baik lewat bahan-bahan alami dan diolah secara tradisional (jauh dari campuran bahan-bahan pengawet!).

    Nasi jamblang adalah menu favorit saya!.

    Ayo,. Go internasional-kan street food Indonesia! Promosikan Nasi Jamblang dan kawan-kawannya. Hidup Nasi jamblang dkk!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas mungkin sebentar lagi akan ada sertifikasi street food oleh pemerintah. amin

      hehe Nasi Jamblang dari Cirebon. enak :)

      Delete
  6. Destia HardikayantiMay 7, 2013 at 8:43 PM

    waah bagus tulisanmu num :)

    bener itu. harusnya pemerintah lebih tanggap tentang pedagang kaki lima. terutama masalah kebersihannya. karena banyak pedagang kaki lima yang punya cita rasa bagus tapi tempatnya kurang memadai.

    sushi, steak aja bisa masuk ke menu makanan Indonesia, berarti mendoan, nasi jomblang, soto juga bisa dong masuk ke menu makanan negara-negara sebelah ??

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih destia :)
      iya mungkin harus ada kesadaran pedagangnya juga. biar sadar ya pemerintah ikut andil ya. mungkin sosialisasi untuk para pedagang kaki lima

      betul banget. sebelum diklaim makanan khas negara lain harus dipopulerkan duluan hehe

      Delete
  7. bagus beud num...aku yo kapan2 meh nyusul ah gawe blog.
    pengin gawe kait ganu jen,,,...gaptek sih, dadi males2 terus..
    But..overall, that's good information from your blogs

    ReplyDelete
    Replies
    1. ndang gawe blog nu. meh diajari po? hehe. jangan males dan alasan gaptek. aku juga awam kok hehe
      thankyou wisnu :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Privat les IELTS di Pare

1 Tahun di Eropa

Mudahnya Pinjam Buku di Denmark