Sisi Lain Gunung Kidul Handayani

Blusukan Pasar

Pagi pertama setelah tertidur nyenyak di Gunung Kidul diawali dengan game. Sesaat saya pikir jika di Korea ada Running Man maka di Indonesia ada Blusukan Pasar. Tempat pertempuran kali ini adalah Pasar Argosari. Peserta dibagi menjadi 5 tim yakni Pari Gogo, Mbah Noto, Bobung, Yu Tum, dan Indrayanti. Setelah berkumpul bersama anggota tim, kami  harus membeli 20 makanan tradisional dengan dibekali uang sebesar Rp.10.000. Yang seru dari game kali ini list nya adalah paduan dan harus dijawab dengan benar untuk tau bahan makanan apa yang harus dibeli. Contohnya saja adalah hitam, permberi rasa pada masakan. kelompok saya, Mbah Noto mengartikannya adalah gula jawa namun ada kelompok lain yang mengira kecap dan ternyata salah.

perikatnya Rp 2500,-
Selain bermain game saya juga menemukan bahan makanan yang baru pertama kali saya lihat yakni Sorgum.. Komposisi nilai gizi tanaman sorgum tidak kalah dari tanaman serealia lainnya seperti padi, jagung dan ubi kayu. Perbandingan kandungan nutrisi tanaman sorgum dan beras adalah sebagai
berikut :

source tanamanpangan.deptan.go.id/doc_upload/Sorgum.pdf

Tidak hanya memiliki manfaat nutrisi ternyata sorgum dapat digunakan sebagai bahan baku industri kertas, nira, gula, alkohol, apritus dan monosodium glutamat (MSG), bahan baku pakan ternak (biji sorgum), bahan baku media jamur merang, sumber hijauan pakan ternak ruminansia (batang dan daun), dan bahan baku ethanol (biji sorgum. 

Topeng Penyambung Nyawa di Desa Bobung

Ternyata tidak Cuma Ubud yang punya seniman hebat, di Desa Bobung, Putat, Pathuk, Gunungkidul pun ada seniman yang saya bilang hebat. Mengapa? Karena mereka menyambung nyawa dengan membuat kerajinan topeng batik.

Pada awalnya topeng dibuat hanya untuk kebutuhan budaya namun kini untuk kebutuhan industry. Dahulu di Desa Bobung terdapat sendratari topeng yang biasa menarikan kisah Panji Sumirang, Gunung Sari Bromo dll. Dulu topeng dibuat tidak untuk diperjualbelikan tapi dibuat untuk kebutuhan budaya. Lama kelamaan karena yg membuat sudah tidak ada maka terputusnya mata rantai pembuatan sehingga tinggal peninggalan. Pada tahun 1960 an Pak Sujiman (UKM Karya Manunggal) dan Pak Tukiran (UKM Bina Usaha) mengajari masyarakat sehingga berkembang seperti sekarang ini.

Di Desa Bobung proses produksi (pengukir atau yang mengolah dari kayu sampai setengah jadi) dikerjakan oleh laki-laki. Untuk tahap akhir (mengamplas dan batik) dikerjakan oleh perempuan. Para pengerajin tergabung dalam Usaha Kecil Menengah (UKM) yang jumlahnya sekitar 18 dengan karyawan sebanyak 5 hingga 76 tiap UKMnya. Selain itu ada pula koperasi yang menaungi agar ada kesepahaman, keselarasan dan persaingan yang sehat antar UKM.

Dari hasil jerih payah 136 kepala keluarga yang berprofesi sebagai pengrajin didapatkan omset sebesar 3 milyar setahunnya. Untuk urusan gaji bisa borongan dalam arti tergantung banyak topeng yang dibuat maupun harian yang tergantung keahlian masing-masing pengrajin.

Bahan baku pembuatan topeng adalah kayu albasia/sengon (Parasirianthes falcataria) dan pule (Alstonia scholaris). Tingginya permintaan dan hasil produksi yang mencapai 80-90 ribu topeng per tahunnya membuat 60 m3 kayu habis diolah. Demi menjaga kelestarian bahan baku diterapkan kebijakan menebang 1 pohon=menanam 10 pohon. Kayu pule merupakan bahan baku yang paling bagus karena seratnya lebih halus namun dari segi pertumbuhannya lama.


mbatik di topeng
Langkah awal membuat kerajian adalah pemotongan bahan baku sesuai model yang kemudian menjadi bahan setengah jadi. Proses selanjutnya adalah penghalusan, gambar manual menggunakan pensil, pengecatan, dan pembatikkan. Pembatikkkannya sama seperti membatik di atas kain dari segi bahan baku dan prosesnya. Seperti halnya batik kain, topeng batik inipun direbus. Setelah direbus topeng batik dilapisi anti jamur dan dimasukkan ke oven agar lebih awet. Setelah selesai topeng batik siap untuk melanglang buana ke pelosok nusantara dan luar negeri.

Prof. Sulaeman menunjukkan topeng favoritnya
Selain berjalan-jalan dan menikmati kuliner khas Gunung Kidul tim #JelajahGizi yang terbagi menjadi dua kelompok juga singgah di Posyandu dan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Prasojo. Ternyata keduanya merupakan binaan dari PT Sarihusada. Di PAUD kita ditantang untuk bercerita di depan adik-adik yang pastinya sangat menantang karena sangat sulit untuk mencuri perhatian anak kecil.


Icip-icip Thiwul dan Gathot
Walaupun sekedar thiwul sama gathot tapi setiap ke Gunung Kidul pasti mampir kesini. Terlalu enak, manisnya tidak pakai pemanis juga –Pak Widjianto, 54 tahun.
Begitu komentar salah satu pembeli yang saya jumpai di tempat oleh-oleh Yu Tum.

Sebenarnya tidak hanya kedua jenis makanan itu saja yang dijual di toko yang beroperasi pukul 06.00 hingga 20.30 WIB ini namun itulah yang menjadi magnet wisatawan jika pergi ke Gunung Kidul. Kelebihan dari toko ini adalah proses pembuatan thiwul dan gathot yang dapat disaksikan secara langsung di dapur yang terletak di belakang toko. Mungkin resep kenikmatan thiwul dan gathot terletak pada proses pembuatannya yang masih sangat tradisional.
 

Tungku tradisional di Dapur Yu Tum

Saya kira thiwul ya thiwul saja ternyata ada banyak jenisnya seperti thiwul srintil, thiwul coblong dan thiwul tumpeng. Thiwul srintil berbentuk kasar menyerupai nasi dan hanya disajikan dengan kelapa parut. Thiwul coblong teksturnya lebih halus dan ada lubang dibeberapa bagian yang diisi dengan gula merah. Sedangkan thiwul tumpeng diberi nama karena bentuknya dibuat seperti tumpeng.

Thiwul dan Gathot sama-sama terbuat dari singkong. Perbedaannya terletak pada proses fermentasi dari jamur dan bakteri yang dialami gathot sehingga menimbulkan warna kehitaman. Selain itu, pada gathot juga ditemukan rendahnya kadar asam sianida (HCN) yang banyak ditemukan pada produk hasil olahan singkong. Rendahnya kadar HCN ini disebabkan karena proses fermentasi yang diketahui memiliki aktivitas mengurangi kadar HCN dalam bahan pangan. Gathot merupakan bahan pangan dengan kandungan serat yang tinggi. Di dalam 100 gram (g) gathot terkandung sekitar 4,2 g serat pangan dan beberapa bakteri probiotik seperti Lactobacillus plantarum Mut7 dan Lactobacillus sake Mut 13 yang diketahui mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen E. Coli yang merupakan penyebab terbanyak kejadian diare.



kiri-kanan : thiwul-gathot
Setelah icip-icip baru sadar ada rasa nangka dan ternyata memang benar ada tambahan nangka untuk memperkaya cita rasa gathot. Jika nangka sedang tidak musim di GK maka diganti jahe sebagai alternatifnya. Sayangnya panganan tradisional ini tidak tahan lama karena tidak menggunakan pengawet. Eits jangan sedih dulu, kini juga sudah disediakan gathot dan thiwul instan.

Saya bersyukur masih dapat menikmati jajanan tradisional dari Gunung Kidul yang ternyata mempunyai banyak kelebihan nilai gizi. Dibalik kelestarian thiwul dan gathot ada veteran pangan tradisional yang bernama Yu Tum. Tumirah nama aslinya, sekarang beliau sudah berusia sekitar 80 tahun.Sudah sejak tahun 1985 Yu Tum berkeliling kampung menjajakan thiwul dan gathot.


Yu Tum yang masih segar bugar diusianya yang tidak muda lagi
Resep thiwul tetap dari saya. Jika bukan saya ndak bisa karena anak saya bikin ndak bisa mateng. Yang bikin saya tapi kalo sekarang saya sudah tua ya nganggur, yang buat itu orang yang ikut saya. –Yu Tum.

Toko yang mulai dibuka tahun 2004 silam ini sekarang diambil alih oleh anak Yu Tum yang bernama Ibu Ratminingsih. Sekarang tidak hanya thiwul dan gathot namun sudah banyak jenis makanan tradisional yang dijajakan di tokonya seperti nasi merah (sego abang), nasi hitam (sego ireng), sayur lombok ijo, oseng–oseng, trancam, gudheg gori, dan empal . Semoga tulisan saya dapat menginspirasi “Yu Tum” yang lainnya di Indonesia, tidak hanya di Gunung Kidul untuk terus melestarikan panganan tradisional. Terimakasih kesempatan yang diberikan Nutrisi Untuk Bangsa kepada saya sebagai salah satu penjelajah gizi karena lewat acara #JelajahGizi saya bisa berkenalan dengan sisi lain Gunung Kidul Handayani.

Gathot Thiwul "Yu Tum"
Pusat:
Jl. Pramuka No. 36, Wonosari, Gunungkidul
Telpon 0274 – 7889300
www.gathotthiwulyutum.com
Cabang:
Jl. Wonosari – Jogja Km. 3,5
Siyono Tengah
Yogyakarta
Tlp. 0274 – 3001164

Indrayanti
degan hijau di pasir Pantai Indrayanti

Udang yang tidak membuat saya alergi saat itu
Akhir dari penjelajahan #JelajahGizi saya ditutup dengan degan hijau dan kudapan seafood yang dimakan di pinggir Pantai Indrayanti. Terimakasih Gunung Kidul atas kesempatan mengenalmu lebih jauh lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Privat les IELTS di Pare

1 Tahun di Eropa

Mudahnya Pinjam Buku di Denmark