Sehat yang Murah di Gunung Kidul

Pesona DI Yogyakarta ternyata belum habis juga. Hampir setiap liburan provinsi yang terletak di Pulau Jawa ini selalu dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Namun sayang rasanya jika sudah jauh-jauh ke kota pelajar ini tapi tidak mampir ke Gunung Kidul (GK). Gunung Kidul merupakan salah satu kabupaten di Provinsi D.I Yogyakarta.


Awal bulan November 2012 saya mendapatkan kesempatan untuk pergi liburan bersama ke sembilan penjelajah lainnya dalam acara #JelajahGizi yang diadakan NutrisiUntuk Bangsa. Liburan kali ini berbeda dengan liburan pada umumnya karena selain berlibur para blogger dan wartawan juga ikut serta mencicipi kuliner tradisional dari daerah Gunung Kidul. Tak hanya itu paket liburan gratis kali ini juga ditambah dengan siraman pengetahuan mengenai gizi tentang pangan lokal dari Prof. Dr. Ir. Ahmad Sulaeman, M.S

Sebelumnya saya pernah ke Gunung Kidul namun hanya sampai bukit bintang saja dan kali ini akan saya ulas wilayah GK lebih jauh lagi. Untuk yang masih memandang sebelah mata potensi wisata daerah ini mungkin bisa menyimak tulisan saya dan berpikir ulang tentang Gunung Kidul. 

Sego abang, walang goreng lengkap karo sayur godhong pepaya

Sudah terlambat dihari pertama saya memutuskan untuk berlari bersama mobil panitia mengejar bus yang sudah melaju terlebih dahulu menuju GK. Akhirnya sampai juga di  destinasi pertama dan langsung disuguhi welcome snack berupa belalang dan makan siang nasi merah dan sayur daun pepaya.



Nasi merah berasal dari pari (bahasa jawa: padi) gogo yang ditanam dan dibudidayakan secara organik dan bebas pestisida (kali ini benar-benar organik dan bukan hanya slogan saja). Padi gogo hidup di lahan kering membuatnya cocok dengan kondisi alam di GK. 

Nasi merah bagi saya sudah tidak aneh karena ayah saya menderita diabetes jadi setiap hari di rumah santapannya adalah nasi merah. Mengapa diabetisi dianjurkan untuk mengkonsumsi nasi merah? Ternyata nasi merah memiliki indeks glikemik (IG) yang lebih rendah disbandingkan nasi putih. Indeks glikemik adalah tingkatan pangan menurut efeknya terhadap gula darah. Pangan yang tinggi kadar IG nya maka akan cepat pula meningkatkan kadar gula darah di dalam tubuh kita. Kelebihan lain dari beras putih yaitu kulit ari yang tidak disosoh sehingga masih ada saat disajikan. Kulit ari mengandung serat dua kali lipat dari beras biasa yang malah dibuang. Serat dan IG yang rendah menyebabkan kita menjadi tidak cepat lapar dan pastinya cocok untuk yang sedang menjalankan program diet. Ada asam-asam lemak esensial di lembaganya yg dibutuhkan tubuh. Lemak dalam beras merah tidak membahayakan namun dapat menurunkan kolesterol darah.

Selain zat gizi makro, beras merah juga mengandung mineral mikro dan vitamin yang tentunya dibutuhkan oleh tubuh kita. Kandungan natrium dalam beras merah yang rendah sekitar 2mg/100g bisa menjadi alternatif bagi yang menderita hipertensi . Thiamin atau vitamin B1 penting untuk metabolisme energi, pertumbuhan, nafsu makan normal, pencernaan dan fungsi saraf. Dahulu serat, vitamin B dan selenium belum dianggap penting namun sekarang dianggap sebagai mineral esensial. Berbagai enzim membutuhkan selenium dalam metabolise lemak. Beras merah nempak mencuri perhatian dari menu makan siang lainnya karena warna merahnya yang ternyata mengandung pigmen antosianin yang bersifat antioksidan dan melawan radikal bebas.



harganya Rp 12.000. kalau satu toples lebaran harganya Rp 35.000
Belalang merupakan serangga herbivora yang banyak dijumpai di GK .Belalang yang saya makan di sini sering dijumpai di sawah dan di pohon lainnya. Ukuran belalang yang hidup di sawah lebih kecil dibanding yang lain. Warna aslinya adalah kuning namun karena diolah dan digoreng kering maka warnanya menjadi coklat kehitaman. Kandungan protein sebelum diolah mencapai 40% dan setelah kering serta digoreng meningkat menjadi 60%. Katanya kalau alergi udang harus hati-hati karena bisa alergi belalang juga. Namun saat saya makan hingga 3 hari acara tampaknya tidak ada tanda-tanda alergi di tubuh saya.

Hitam dan bentuknya yang sudah tidak karuan seperti dimutilasi membuat efek  ngeri untuk mencicipinya. Dengan kesungguhan hati akhirnya saya memberanikan diri untuk melahap belalang goreng. Seret, kering, seperti bau gosong dan tidak berasa. Itulah rasa yang timbul menurut saya. Segelas es jeruk nipis pun saya tegak untuk segera menghilangkan after taste dari belalang tadi.


Setelah seret dengan nasi merah dan belalang goreng lengkaplah makan siang saya dengan sayur daun pepaya. Info lagi nih, daun pepaya kali ini rasanya tidak pahit lho. Ada beberapa tips untuk menghilangkan rasa pahit daun pepaya diantaranya adalah
  1. Rebus daun pepaya bersama dengan beberapa lembar daun jambu biji. Setelah mendidih, tiriskan dan rebus kembali dengan air bersih sampai matang. 
  2. Rebus daun pepaya dengan tanah liat putih di dalamnya. Setelah empuk, pisahkan daun pepaya dan tanah liat. Cuci bersih dan masak sesuai selera. 
  3. Rebus daun pepaya dengan campuran daun singkong di dalamnya. 
  4. Rebus daun pepaya bersama dengan daun jambu mete dengan perbandingan 1:3. 
  5. Campur daun pepaya dengan garam kasar, lalu remas sampai daun pepaya menjadi lemas dan layu. Diamkan 5 menit, cuci bersih, dan rebus sampai matang.
Ingin memacu adrenalin yang lebih, saya melahap belalang goreng lengkap dengan nasi merah, sambal bawang serta sayur daun pepaya. Akhir kata saya ucapkan "alhamdulilah kenyang" dan ditutup dengan teh manis hangat khas pedesaan. "sluuurp", nikmat sekali.

secangkir teh hangat dengan gula batu sebagai pemanisnya
Rumah makan ini teridiri dari dua bagian. Bagian samping dan yang utama terbuat dari kayu dan bambu namun sudah dilengkapi kipas angin, toilet dan dekat dengan mushola. Tempat parkirnya cukup luas (mampu menampung kurang lebih 5 mobil dan 1 bus ukuran besar). Penasaran dengan suguhan yang ada? Langsung saja mampir ke RM Pari Gogo.


Ternyata ibu Megawati sudah ke RM Pari Gogo



RM Pari Gogo
Jl. Wonosari, Semanu, Gunungkidul
Jika dari arah Yogyakarta terletak di kanan jalan tepatnya sebelah barat dari Jembatan Jirak.
Buka mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB.


Ice cream ungu nan menggoda

satu cup ice cream yang mendinginkan panasnya GK


Ketika saya bercerita akan liburan ke Gunung Kidul spontan Mamah saya bilang “Bawa minum, di sana airnya susah lho.” Ternyata ada alasan mengapa Mamah saya punya argumentasi begitu. Tempat ini berbeda dari dataran tinggi lainnya karena masalah air. Biasanya dataran tinggi itu surganya air namun jangan harap demikian di GK. Air menjadi masalah pokok di wilayah seluas 1.485,36 km2 ini. Berapa wilayah di GK yang terlihat tandus ini mengalami kekurangan air pada musim kemarau panjang. Salah satu tempat yang kekurangan air adalah Desa Sambirejo, Kecamatan Ngawen.

Air menjadi masalah pokok di desa ini sejak dahulu namun keadaannya berubah 180 derajat ketika seorang bidan dengan tangan emasnya membuat warga desa bisa menikmati nikmatnya air bersih. Bidan Lies begitu sapaan akrab warga desa tidak hanya sebagai arsitek sumur bor namun juga sebagai dewa penyelamat seorang ibu yang akan melahirkan bayi ke dunia. Dahulu beliau hanya menggunakan air satu baskom saja untuk membantu proses kelahiran namun kini air sudah melimpah dan bisa dinikmati para penduduk desa. Dengan usahanya beliau mendapatkan penghargaan berupa srikandi award 2009.

Dahulu mau kencing aja harus beli aqua. Setelah 4 tahun saya merasa ingin pindah ke Temanggung yangg banyak air. Tapi jika saya pergi maka meninggalkan orang-orang yang selamanya tidak menikmati air bersih. Dengan membuat proposal yang bertujuan untuk masyarakat alhamdulilah menang mendapatkan juara dua. -Bidan Lies


pesan untuk warga di Sendang, sumur bersama


seorang anak mencuci tangannya di depan rumah Bidan Lies
Hingga kini air dari sumur dapat dimanfaatkan masyarakat dengan membayar uang subsidi air bersih yang pada akhirnya dikembalikan ke masyarakat lagi. 

Sebagai kader kesehatan, Bidan Lies juga membantu ibu-ibu PKK untuk menciptakan inovasi pangan yang baru yakni ice cream ungu. Sekilas warnanya menggoda saya untuk mencicipinya tapi saya bertanya dalam hati apakah ada pewarna makanan atau tidak karena warnanya sungguh menggoda. Ternyata ice cream ungu ini terbuat dari ubi jalar. Ubi jalar yang mempunyai nama latin Ipomoea batatas L terdiri dari berbagai varietas. Yang dimanfaatkan oleh ibu-ibu PKK adalah ubi jalar yang berwarna ungu. Pangan lokal ubi jalar ungu ternyata bisa dikembangkan menjadi ice cream dan bakpao. Penasaran? Kali ini saya bagi cara membuat ice cream ubi jalar ala ibu-ibu PKK di desa ini.


Pertama ubi jalar yang sudah dibersihkan dari kulitnya direbus dan dihaluskan. Bisa menggunakan cara tradisional dengan ditumbuk atau menggunakan blender. Setelah itu dicampurkan dengan santan (belum dimasak) serta bubuk instan es krim yang bisa dibeli di supermarket terdekat. Terakhir simpan di lemari es. Tunggu beberapa jam dan sudah bisa disantap.



bakpao ubi jalar

Ubi jalar ungu tidak hanya mengandung karbohidrat oligosakarida namun juga indeks glikemik yang rendah. Lagi-lagi bisa dimanfaatkan bagi diabetisi. Warna ungunya merupakan pigmen antosianin yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna makanan alami. Setiap 100 gram (g) ubi jalar ungu mengandung energi sebesar 123 kkal, protein 1.8 g, lemak 0.7 g, karbohidrat 27.9 g, kalsium 30 mg, fosfor 49 mg, besi 0.7 mg, vitamin A 7.700 SI, vitamin C 22 mg dan vitamin B1 0.09 mg. Kandungan betakaroten, vitamin E dan vitamin C bermanfaat sebagai antioksidan pencegah beragam penyakit kardiovaskuler. Kandungan serat dan pektin di sangat baik untuk mencegah gangguan pencernaan seperti wasir, sembelit hingga kanker kolon. Selain buah ungunya ternyata daun ubi jalar juga dapat dimanfaatkan untuk dimasak atau dijadikan lalapan. Daun ubi jalar pun mengandung laktagobum yang mempengaruhi hormon oksitosin dan prolaktin. Kedua hormon tadi berfungsi untuk pengeluaran air susu ibu (ASI). Jadi konsumsi daun ubi jalar sangat baik bagi ibu yang sedang menyusui namun harus diperhatikan cara pengolahannya hingga benar-benar matang agar tidak menyebabkan kembung dan buang angin.

 Bakmi, Soto, Ayam Goreng & Bakar Mbah Noto

Hari pertama ditutup dengan makan malam bakmi jawa di Wonosari. Bakmi jawa terdiri itu terdiri dari mie berwarna kuning yang terbuat dari tepung terigu dan putih (bihun) dari tepung beras. Kita bisa minta di godhog (rebus), goreng atau nyemek (bakmi dengan kuah sedikit). Cara memasaknya sama dengan bakmi biasa namun diolah diatas tunggu yang menggunakan bara api (arang berwana hitam) sehingga menimbulkan aroma khas tersendiri. Sebagai pelengkap ditambahkan telur, daging ayam kampung, kubis atau kol, tomat, daun bawang, seledri dan taburan bawang goreng.


satu piring bakmi godhog seharga Rp 8000,-
Sesuai judulnya saya yang duduk semeja dengan beberapa blogger akhirnya memesan ayam goreng. Harga per porsinya Rp 18.000. Agak mahal dibandingkan dengan ayam goreng lainnya namun ayam yang dijual di sini ternyata adalah ayam kampung. Ayam kampung dipilih karena lemaknya lebih rendah dan dagingnya yang berserat namun empuk. Selain itu ayam kampung jauh lebih sehat dibandingkan ayam petelur yang biasanya disuntikkan hormon ke tubuhnya. Yang lebih mantapnya lagi ayam goreng ditemani oleh sambel korek yang pedasnya nampol!. Dengan iseng saya mencampurkan sambel ke dalam kuah bakmi godhog dan hasilnya adalah "yummy". Harga dan rasanya berbanding lurus!


sambel korek
Oiya saya punya beberapa tips makan bakmi di Bakmi Mbah Noto:
  1. Datang jangan terlalu malam (pukul 14.00 hingga pukul 24.00 WIB) karena sang juru masak hanya menggunakan satu tungku untuk melayani pesanan pembeli.
  2. Antri lama adalah hal biasa untuk mencicipi satu porsi bakmi di sini jadi siapkan cemilan atau bisa pesan kol goreng dan ayam goreng terlebih dahulu untuk menunggu.
Lengkap sudah hari saya dengan semua pangan lokal yang bergizi dan pengalaman baru menjelajah Gunung Kidul. Mau sehat? Tidak harus makan makanan mahal!

Bakmi Mbah Noto
Jl. Yogja - Gunung Kidul
dari arah alun-alun Wonosari terletak disebelah kanan jalan. Warungnya sederhana dan mempunyai parkiran luas. 


sumber pustaka:
Almatsier, Sunita. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama (GPU), 2001.
http://female.kompas.com/read/2011/11/10/14563998/Agar.Daun.Pepaya.Tak.Lagi.Pahit

Comments

  1. Ngiler :)
    jadi pengen kembali ke Gunung Kidul.
    Tahun 2012 saya ke Pantai Timang tempat gondola kayu yang digunain nelayan lokal untuk meneyberang lautan :)

    ReplyDelete
  2. Pantai Timang di Gunung Kidul juga bang?
    wah jadi kepengen ke sana lagi mumpung lagi di Jogja hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Privat les IELTS di Pare

1 Tahun di Eropa

Mudahnya Pinjam Buku di Denmark