Pesona Kendal Makin Menawan

Lihat-lihat buku diary ternyata beberapa bulan kemaren saya sempet trip satu hari ke Kendal. Waktu itu agendanya adalah liputan majalah kampus bareng Dian, Ulil, dan Ilham. Kita berempat akhirnya berangkat ke Kendal pagi-pagi sekitar jam 7 berbekal pengetahuan jalan yang minim.


Gua Kiskendo
Tujuan utama kali ini adalah Objek Wisata Gua Kiskendo. Setelah knalpot dua sepeda motor memanas dan hampir kesel karena selalu nyasar, akhirnya kami sampai juga di Desa Trayu, Kecamatan Singorojo, Kendal. Sedikit kecewa karena menurut saya kawasan ini seperti mati suri, begitu turun dari motor saya hanya berputar 360 derajat. Ternyata lokasi wisata yang diresmikan tahun 1991 oleh Bupati Kendal kala itu, Soemojo Hadiwinoto tidak hanya terdiri dari gua saja namun ada bumi perkemahannya.







Sesampainya di sana kami harus membayar tiket masuk sebesar Rp 4 ribu dan berjalan kurang lebih 500 meter untuk melihat keindahan yang sesungguhnya. Perjalanan menuju gua cukup menguras tenaga saya. Baru pertama kali setelah di Semarang saya berkunjung ke Kendal dan saya pun baru tahu kalau di Kendal ada objek wisata seindah ini. Di kawasan ini saya melihat relief alam pada dinding gua yang menjulang sangat tinggi sekitar 20 meter. Pengunjung dapat melakukan olahraga panjat tebing di sini namun peralatannya harus dibawa dan disiapkan sendiri.







Yang menarik dari gua ini adalah sungai yang membelah gua menjadi dua bagian. Sepertinya jika ada persewaan rafting, saya akan langsung mencoba berarungjeram dialiran Sungai Glagah ini. Seperti gua pada umumnya, saya sering terkena tetesan air yang berasal dari batu atau yang disebut stalaktit dan stalakmit. Tidak hanya itu, di kawasan ini juga terdapat gua lainnya yaitu Gua Lawar, Pertapaan, Kampret, Tulangan, dan Kempul.


Keindahan gua kiskendo bisa didapatkan hanya dengan menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari pusat kota Kendal. Ingin menengok keindahan alam yang satu ini? Pastikan Anda datang sekitar pukul 08.00 hingga 16.00.


Ujung Pangilon
Hasil wawancara singkat dengan senior, tempat ini direkomendasikan untuk dikunjungi ketika di Kendal. Saya sedikit lupa nama tempatnya, yang jelas ada di Ampel atau Ngampel. Karena baru pertama kali kami sempat nyasar ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) lho. Berbekal kompas hati atau feeling, kami berhasil menemukan jalan menuju tempat yang saya definisikan sebagai waduk mini. Perjalanan kali ini sungguh menguras tenaga dan otak karena jalanannya hanya dapat dilalui kendaraan roda dua saja. Tak jadi masalah untuk saya karena saya hanya duduk di belakang. Kali ini kami disuguhi pemandangan khas pedesaan dimana warganya masih ada yang mandi, mencuci bahkan buang hajat di aliran sungai, banyak lelaki paruh baya yang mencari pakan ternak dan senyuman akrab masyarakat pedesaan yang sungguh dapat membuat saya melupakan sejenak hiruk pikuk kehidupan urban.


Setelah terlena sejenak oleh pemandangan itu, akhirnya kami sampai juga di Ujung Pangilon. Sepengetahuan saya, makna dari Ujung Pangilon adalah ujung dari pengelihatan. Benar saja, pemandangan yang disuguhkan disini benar-benar seperti yang saya bayangkan. Deburan air dan sepoi nya angin membuat daya tarik tersendiri bagi muda mudi. Ketika kami sampai, ada dua pasang muda mudi yang sedang menikmati keindahan sambil bercengkrama. Suasana indahnya seakan pecah dan rusak ketika kami datang. Maafkan kami yang terlalu senang melihat sesuatu hal yang baru.


Diatas ujung pangilon terdapat jembatan tua yang masih dapat digunakan. Sepintas seperti jembatan buatan jaman Belanda. Benar saja, setelah menginvestigasi seorang pelajar yang lewat ternyata dulunya tempat ini merupakan salah satu waduk buatan Belanda. Sambil melepas lelah dan dahaga kami tidak lupa mengabadikan momen ini dengan berfoto untuk disimpan menjadi kenangan. Walaupun tidak dipungut biaya masuk, kami tetap menjaga kebersihan tempat ini.


Setelah puas dengan gua kiskendo dan ujung pangilon, kami berempat yang hampir saja hipoglikemi karena perjalanan yang melelahkan kami memutuskan untuk makan. Mengandalkan hasil searching di google, akhirnya kami berempat memutuskan untuk liputan sate bumbon. it a weird name i think. Sedikit info untuk kulinerawan dan kulinerwati yang ingin mencoba sate unik yang satu ini.


Sate Bumbon
Di tempat kelahiran saya Purwokerto, saya hanya mengenal kehadiran hasil olahan daging ayam dan kambing yang dibakar. Namun, di Kendal ternyata ada sate bumbon. Sate dari daging sapi yang sudah sering menjadi santapan masyarakat Kendal dan sekitarnya.

Aroma sedap daging yang dibakar di atas bara api langsung menyebar ke seluruh ruangan kala itu. Bumbon jika dalam bahasa jawa berarti bumbu. maksudnya adalah bumbu untuk memasak. Dapat diartikan bahwa sate bumbon merupakan sate yang berbumbu atau menggunakan banyak bumbu sehingga menimbulkan rasa dan aroma yang membuat sekresi kelenjar saliva saya terus terjadi.


Penampilan sate bumbon awalnya saya lihat biasa dan sama seperti sate lain pada umumnya. Namun, sate dari daging sapi ini terasa empuk pada gigitan pertama. Belum lagi bumbu kacang yang menambah nikmatnya makan siang saya kala itu. Yang khas dari sate ini adalah menu pelengkap yang disediakan. Biasanya saya makan sate hanya dengan lontong/nasi, sate, bumbu kacang, cabai rawit, dan bawang merah iris. Ternyata sate ini dihidangkan bersama sayur lodeh nangka muda. Sebuah variasi rasa yang tepat karena rasa gurih sayur berpadu dengan rasa manis dan pedas sate daging sapi. "Rasa gurih, manis dan pedas berpadu dengan sate daging sapi yang empuk membuat makin menarik," kata salah satu pembeli.


Sayur lodeh kali ini sedikit berbeda dengan sayur lodeh yang biasanya saya makan di warteg. Di sini disajikan sayur lodeh dari campuran nangka muda, labu siam, dan rebung (bambu muda). Kita dapat memesan lontong atau nasi yang disediakan. Belum habis keunikan dari sate bumbon, ternyata ada taoge dan bawang merang goreng di piring nasinya. Ini sekaligus menjadi kesegaran lain dari satu porsi sate bumbon.

Saya yang biasanya kurang menyukai masakan olahan daging karena aromanya yang kurang sedap sempat bertanya kepada pemilik warung tentang rahasia rasa sate dagangannya. Rasa gurih dari sate bumbon dihasilkan karena proses pengolahan sate yang berkelanjutan. Maksudnya disini, setelah daging dipotong dan ditusuk, daging langsung dilumuri bumbu kacang. Proses pengolahan daging terus berlanjut saat daging dibakar. Daging tetap diolesi bumbu rempah-rempah hingga matang sehingga meskipun tanpa nasi dan sayur lodeh rasanya sudah gurih dan nikmat untuk disantap.

Sate bumbon dapat dinikmati di Warung Pak Rochmad dengan harga Rp 2000 per tusuk atau Rp 20.000 perporsinya lengkap dengan 10 tusuk sate, nasi dan sayur lodehnya. Warung yang mulai beroperasi sejak tahun 1985 ini terletak di Jalan Raya Putat Gede, Kendal. Dalam seharinya Pak Rochmad dapat menjual dua ribu hingga tiga ribu tusuk sate dan jumlahnya akan meningkat pada akhir minggu hingga lima ribu tusuk. Dengan ketenaran sate bumbon, sudah banyak juga yang memesan untuk acara pernikahan, syukuran dan khitanan. Rasa khas yang ada pada sate bumbon ternyata berasal dari resep turun temurun keluarga Pak Rochmad, jadi jangan kaget kalau ada warung sate bumbon lainnya di Kendal karena bisa jadi itu merupakan adik atau keluarga Pak Rochmad lainnya.


Krupuk rambak
Sehabis kenyang menyantap satu porsi sate bumbon yang dimakan berempat (ngirit), kami memutuskan untuk membeli rambak (oleh-oleh khas Kendal) untuk oleh-oleh. Tidak seperti yang saya bayangkan, ternyata harganya sangat terjangkau yakni Rp 5000 untuk satu bungkus rambak sapi dan Rp 8000 untuk satu bungkus rambak kerbau.

Ketika memakan rambak tampaknya kita harus sedikit sabar karena makan kerupuk rambak sama berisiknya jika membuka bungkus permen dikeheningan ruangan (source: http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2012/06/22/serba-serbi-kerupuk-rambak/).


Perjalanan satu hari yang menimbulkan efek pegal-pegal dibagian kaki dan kulit sedikit menghitam cukup terbayar dengan pesona yang ada di Kendal. Perjalanan Semarang ke Kendal di tempuh menggunakan sepeda motor yang hanya menghabiskan bensin kira-kira Rp 15.000. Jalanannya cukup bagus namun sedikit berdebu. Untuk perlindungan, gunakan masker, sarung tangan dan jangan lupa bawa air minum di tumbler ya! Karena semua foto di postingan saya kali ini adalah hasil jepretannya Ilham, bagi yang ingin copy atau segala macam yang terkait hak cipta bisa hubungin Ilham ya.

Comments

Popular posts from this blog

Privat les IELTS di Pare

1 Tahun di Eropa

Mudahnya Pinjam Buku di Denmark