Hi there, enjoy!

Thursday, September 7, 2017

1 Tahun di Eropa

A year ago a broken hearted woman moved from Jakarta, Indonesia to Copenhagen, Denmark to continue her life and pursue her dream. She tried to survive while she did not know where to stay yet. She got the visa on Friday and also resigned on the same day from her previous office. At that day she also booked a flight ticket to Copenhagen on Tuesday. 4 days to prepare everything.

She stayed in the living room on her friend's apartment for 2 weeks then finally found a super nice landlord and a home to stay. Stressful yet also challenging to live in this lonely and happiness country at the same time. She also decided to take an opportunity to have an exchange at The Netherland on October to try something that she really wants it instead of stay at her new (not so) comfort zone.

Surviving in Wageningen is not always easy. Combination of the crazy short period and almost no holiday during the semester makes she gain 7kg of weight until she sometimes talked with her friend about it and he always said, "All is well Hanum". Yes, indeed she believes that all is well until she did not realize that she spent amazing 5 months there. She found the new friends and also energy to survive.

Now she is back to Copenhagen to continue her education. She is me. Yes, I am.

Taken by Robbykha Rosalien, September 2017
Thank you, Copenhagen and Wageningen. Both of you gave me tons of memories, taught me how to survive here not only as a post grad student but also as a human being. I became aware of sustainability and environment then I try to apply in my daily life even though I know it's always difficult but at least I try to buy fair trade product at the supermarket.

Facing all problems that maybe you never know but you always judge me feel irritated. Sorry to say but I do not really care anymore because what you think never make me understand the journal or pass the exam. Lol. I learn many things through all process. Thank you for all people whom always help and cheer me up through this year. Love you guys!

"God will always be here for us," Missy Savira

Monday, September 4, 2017

Privat les IELTS di Pare

Halo semua. Udah lama nih gak menyinggung tentang IELTS dan serba-serbinya. Jadi ada beberapa orang yang japri saya lewat sosial media dan menanyakan tempat les IELTS saya dulu. Daripada saya jealsin satu-satu lebih baik dijadikan postingan blog agar lebih banyak yang membaca ya. Jadi, dulu sya les IELTS secara privat di dua tempat yaitu di Pare, Kediri dan di Jatinegara, Jakarta. Saya bahas yang di Pare karena yang di Jatinegara sudah tutup, pengajarnya mudik ke United Kingdom.

Untuk yang belum pernah ke Pare, saya kasih gambaran dulu tetang Pare ya. Ini adalah sebuah kecamatan di Kediri di mana banyak sekali lembaga yang membuka tempat belajar bahasa inggris. Hal ini bisa dibuktikan ketika mengetik kampung inggris pare di search engine website. Puluhan situs tempat les bahasa inggris akan bermunculan dan IELTS menjadi salah satu materi yang ditawarkan. Saya sarankan untuk melakukan riset terlebih dahulu sebelum memutuskan tempat les untuk lebih meyakinkan dan tidak sia-sia waktu, uang, dan tenaga yang terbuang.

Di Pare saya les ke beberapa orang secara privat tergantung subjeknya biar lebih fokus. Untuk writing sendiri saya memilih les di dua tempat dan salah satunya ke Alex Candra. Bisa dibilang dia satu angkatan sama saya di kampus dulu cuma di Pare udah jadi guru les IELTS. Ikut kelasnya terbilang sebuah tantangan untuk saya karena kabarnya dia disiplin banget sama muridnya tapi saya gak punya pilihan lain daripada gagal dapat nilai IELTS yang ditargetkan. Nah kebetulan karena listening saya sudah bagus, saya join kelasnya di section writing, speaking, dan reading. Saya bahas nih satu-satu tentang les bareng beberapa teman dengan Alex Candra.

Salah satu nilai untuk seorang teman
1. Writing
Saya prefer cara ngajar Alex yang "sedikit" kuno sama muridnya. Kita diajarin dasar ilmu nulis tapi bukan grammatical ya. Jenis-jenis tipe teks dan bagaimana konsep mengemukakan pendapat dalam bahasa Inggris secara akademik yang terstruktur. Jujur aja, menurut saya agak susah untuk menulis dalam bahasa Inggris agar tidak hanya enak dibaca tapi benar secara academic writing. Setelah dapat semua ilmunya, Alex gak akan nyuruh kita paraphrase soal tapi bagaimana kita eksplor pengetahuan kita seputar topik soal dan menuliskannya. Ini agak ribet diawal tapi pada akhirnya saya pakai sampai sekarang kuliah kalau ngerjain tugas Essay. Serunya, walaupun Alex itu jadwalnya padat merayap dia akan koreksi essay kita satu persatu dan perkalimat. Saya suka maksa dan nungguin dia sampai essay saya dikoreksi. Makan waktu sih tapi bermanfaat sekali!

Untuk dua materi ini saya lesnya bareng sama banyak anak atau gabung di tempat Alex ngajar atau di Global English. Personally, saya les di sana ya karena yang ngajar Alex.

2. Reading
Alex banyak kasih tips dan latihan ngerjain soal reading ke muridnya dan ini bermanfaat banget untuk mencuri nilai di IELTS. Dia menekankan untuk kerja cepat di reading untung menghemat waktu jadi bisa double check. Kebetulan cara saya sama seperti Alex dengan lihat pertanyaan dulu baru bacaannya dengan mencari keyword.

3. Speaking
Metode Alex di speaking hampir sama seperti di section lain karena dia selalu menjelaskan semua bagian IELTS itu secara detail di awal pertemua. Jadi sebagai siswa kita gak gagap pengetahuan tentang scoring. Saya paling semangat waktu kelas speaking karena jawaban saya selalu dibilang sampah sama dia dan emang bener waktu itu saya rekam dan dengerin ulang suara saya. Ya memang sampah ternyata. Dia sangat objektif kalau menilai murid dan benar-benar seperti simulasi di tempat tes IELTS. Mental breakdown nya dapet tapi bermanfaat untuk persiapan untuk yang belum pernah tes IELTS karena Alex akan kasih nilai setiap latihan yang bermanfaat untuk mengetahui seberapa pesat perkembangan kita.

"Gak ada cara lain untuk mendapatkan nilai IELTS yang kita mau selain berusaha lebih dan tekun, InsyaAllah hasilnya pasti setimpal dengan usaha kita," Alex Candra.

Overall, saya merekomendasikan Alex karena menurut saya dia gak cuma jadi guru les tapi juga bener-bener niat ngebantu agar kita bisa paham dan ngerti konsep dasar dan aplikasinya. Catetan les IELTS sama Alex bahkan saya wariskan ke adek saya untuk belajar saking lengkapnya. Banyak buku dan tempat les yang mengajarkan cara berbeda. Mau pakai cara siapa dan bagaimana, selama kita nyaman dan yakin maka hasilnya akan sesuai dengan usaha yang sudah kita lakukan.

Saya selalu ingat waktu sebelum tes IELTS, dia whatsapp saya kasih semangat dan yakin kalau saya bisa dapet nilai yang saya mau padahal saya udah pasrah karena kalau saya gagal maka saya harus cari uang lagi untuk tes. Oh iya ini bukan promosi berbayar ya. Saya cuma mau kasih tau tempat les terjangkau untuk mahasiswa yang mau tes IELTS dan bagus aja. Tusind tak Alex!

Untuk menghubungi Alex bisa melalui email alex.candra15@gmail.com

Tulisan lainnya
1. Selayang Pandang IELTS
2. Pare, sebuah kecamatan di Kediri

Saturday, September 2, 2017

Hampir dideportasi

Serem banget ya judulnya? Ya memang begitu kenyataannya kuliah di luar negri. Tidak melulu jalan-jalan sambil mengunggah foto di Instagram lengkap dengan caption bijaknya. Beberapa waktu lalu saya sempat mengalami situasi kurang enak karena nyaris dideportasi dari Eropa. Gimana ceritanya?

Kartu pink dari Belanda dan Denmark

Residence permit Denmark sampai bulan Juli 2017
Sewaktu saya apply visa dan residence permit (ijin tinggal di Denmark) di Jakarta dulu, saya tledor pakai passport saya yang mau habis tahun 2017 bulan Oktober jadi saya cuma dapat ijin tinggal di Denmark hingga bulan Juli 2017.

Pelajaran untuk yang mau sekolah atau kerja, perpanjanglah passpor Anda sebelum apply residence permit ya. Setidaknya passport habis setelah urusan di luar negri selesai.

Exchange di Belanda
Saya buat residence permit lain di Belanda karena harus tinggal lebih dari 3 bulan di sana. Nah, sewaktu meninggalkan Denmark kebetulan saya sign out dari alamat kosan karena memang sudah ada penghuni kos setelah saya dan saya cuma nitip barang aja di rumah landlady (ibu kos) saya. Harusnya saya apply dispensasi agar residence permit Denmark saya gak lapse atau gugur. Tapi dulu diskusi dengan student service dan disimpulkan tidak usah mengisi formulir dispensasi karena saya tinggal di Belanda cuma 5 bulan. Ternyata ini lah sumber masalahnya.

Perpanjang residence permit di Den Haag
Residence permit Denmark saya habis bulan Juli 2017 dan saya memutuskan untuk perpanjang di Bulan April 2017 karena kita bisa memperpanjang 3 bulan sebelum masa berlaku habis. Karena posisi saya di Belanda akhirnya saya perpanjang dan apply dari Kedutaan Besar Denmark di Belanda, Den Haag. Saya sempat menulis ceritanya di sini.

Perhitungan saya, bulan Juni kartu pink (sebutan untuk residence permit karena kartunya berwarna pink) saya sudah jadi karena paling tidak proses pengerjaannya itu 2 bulan sejak semua dokumen lengkap. Saya percaya diri semua dokumen saya itu lengkap karena sudah double check oleh petugas kedutaan Denmark di Belanda dan saya sendiri.

Belum lengkap juga ternyata karena saya harus melampirkan scan foto passport saya dari halaman 1 hingga 48. Ya, semua halaman karena saya awalnya cuma kirim bagian yang ada datanya dan ternyata tidak ada balasan email dari petugas karena salah. Harus semuanya. Informasi ini saya dapatkan dari telpon ke imigrasi langsung dari Belanda. Selain itu berkas saya masih belum selesai karena residence permit Denmark saya yang expired itu dianggap lapsing karena saya gak apply dispensasi. Jadinya berkas saya kali ini dianggap sebagai apply baru. Saya juga masih harus melampirkan scan kartu residence permit Belanda saya. Hingga bulan Agustus awal, belum ada kabar tentang aplikasi saya padahal residence permit Belanda saya expired pada akhir Oktober 2017.

Panik, bingung, takut, dan akhirnya saya berani cerita ke salah satu teman PPI Denmark dan akhirnya difasilitasi untuk konsultasi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Denmark. Agak sedikit lega karena saya disabarkan dan diingatkan untuk terus berdoa karena jika residence permit saya ditolak berarti saya harus pulang ke Indonesia sebelum 31 Oktober 2017 dan membuat baru dari Jakarta. Saya jadi mikir berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk pesawat dan apply residence permit baru. Kegiatan saya yang padat karena karus pindahan dari Belanda ke Denmark, ambil barang di rumah lama dan dipindah ke rumah temen sementara, ikut summer course di Polandia, pindahan ke rumah baru, serta jadwal liburan yang sudah saya susun jadwalnya sedemikian rupa membuat saya tambah pusing lagi hingga pada akhirnya saya pasrah.

Saya telpon orang tua dan bilang kalau mungkin akan pulang di Bulan Oktober 2017 dan malah mamah saya ngelawak. Mungkin antara ngelawak dan sedih anaknya nasibnya gak jelas banget.

Saya: "Mah, mau pulang kayaknya nih bulan Oktober. Gak tau balik lagi atau enggak. Urusan administratif sedikit bermasalah."
Mamah: "Kamu emangnya mau pulang ke mana? Kuliahnya terus gimana? Berhenti?"
Saya: "Ke rumah. Ya mau gimana lagi?"
Mamah: "Rumah mana? Gak jadi dapet master berarti?"
Saya: "Rumah Yangkung sama Uti juga boleh. Ya belum rezeki berarti, maaf ya Mah."

Ya begitulah kira-kira percakapan sama mamah saya. Seperti sudah nyaman tinggal sama Bapak sampai bingung anaknya kalau pulang ke rumah mau ke rumah siapa. Ya masa ke rumah tetangga apalagi mertua. Ribetnya, saya harus balik ke Belanda atau saya kirim via kurir, yang gak murah juga biayanya, kartu residence permit Belanda sebelum 31 Oktober 2017 dan lapor ke Gemeente Wageningen untuk pamit kalau saya keluar dari Wageningen.

Apakah kartu pink sudah jadi sekarang?
Saya dapat email dari imigrasi tanggal 15 Agustus 2017 kalau residence permit saya sudah granted. Akhirnya ya setelah mengurus dari bulan April, ada juga hasilnya. Sekarang saya punya surat resmi dari imigrasi tapi kartu pink saya belum dicetak karena saya tidak punya alamat rumah.

Jadi kalau di Copenhagen, pindah ke rumah baru itu harus lapor Kommune kalau saya tinggal di rumah itu. Harusnya kalau saya sudah punya kartu kuning (CPR card), saya bisa langsung update data via online tapi karena masalah residence permit saya itu akhirnya saya harus ke kantor International House Copenhagen (IHC) untuk mengurus semuanya dari awal seperti pertama kali saya apply CPR. Keribetan ini belum berakhir karena waktu ke IHC saya disuruh ke Bolig Office (yang ngurusin rumah). Di Bolig Office sampai telpon help center, disuruh balik ke IHC. Ya intinya mondar-mandir dan saya harus nunggu 3 minggu sampai 1 bulan ketika pihak IHC kirim invitation ke saya untuk interview dan pembuatan kartu. Kalau saya sudah punya kartu kuning (CPR card) maka saya lapor pihak imigrasi dan kartu pink saya akan dicetak dan dikirim ke alamat rumah baru saya.

Semoga Allah selalu bersama semua hambaNYA. Semoga cepat selesai urusan rumah dan kartu ijin tinggal ini karena sesungguhnya saya mau kuliah dengan tenang tanpa mikirin mimpi buruk dideportasi.

Thursday, August 31, 2017

Summer School 2017 di Polandia

Bulan Juli hingga Agustus tahun ini saya mendapat kesempatan untuk mengikuti summer course dengan tema "Sustainable Food System and Diet" di Warsaw University of Life Sciences (WULS), Polandia. Ini adalah salah satu program dari Erasmus+ yang bekerjasama dengan beberapa kampus di negara Eropa seperti universitas saya, University of Copenhagen, di Denmark lalu Estonian University of Life Science, University of Kassel, University of Applied Sciences (MUAS) FH Munster Germany, ISARA-Lyon France, UNISG Italy, dan Universidad Politecnica de Madrid.

Bukan foto studio yang make background

Delegasi dari University of Copenhagen bersama Prof. Susanne Bugel

Proses seleksi peserta dilakukan sejak bulan April 2017 dan akhirnya saya beserta 32 mahasiswa master dan doktoral lainnya mengikuti serangkaian kegiatan summer course sejak bulan Mei hingga Juli 2017. Proses belajar dimulai dengan dengan sistem online learning. Terdapat kurang lebih 12 video materi dengan durasi 15 menit setiap videonya. Selain itu setiap mahasiswa harus menyiapkan presentasi tentang makanan nasional dari negaranya yang dimasak dan diukur tingkat sustainabilitasnya dari segi kesehatan dan lingkungan (waste nya). Kebetulan saya mempresentasikan Masakan Sunda khususnya Pepes Ikan Nila.

Presentasi Masakan Sunda sebagai salah satu makanan Indonesia 
Awalnya sempat terjadi drama karena saya belum membaca instruksi lengkap tentang tugas itu. Alasan besar sampai tledor karena saya megambil 5 mata kuliah di periode 4 ketika kuliah di Wageningen University and Research, Belanda dengan total 12 ECTS (4 MOS module dan 1 course, mau pindahan ke Copenhagen, dan nyaris dideportasi. Singkat cerita bertemulah saya dengan Rahman, seorang teman di Wageningen, di perpustakaan Forum dan dia menegaskan tugas serta apa yang harus dilakukan di hari terakhir saya di Wageningen. Sore hari saya belanja ke toko asia di Wageningen ditemani Mas Ferry karena sudah panik banyak yang harus dilakukan sebelum besok paginya pulang ke Copenhagen. Pepes ikan nila selesai dimasak dini hari dan proses pembuatan presentasi diselesaikan di jalan selama dari Wageningen. Belanda hingga sampai Copenhagen, Denmark. Terimakasih Rahman, Mas Ferry, Kak Rahma, Kak Rafika, Mba Intan, Arina dkk. Saya belajar tentang sustinability melalui makanan yang dimasak dan dikonsumsi dari tugas kali ini terutama makanan Indonesia di luar negeri.

When the foods comes to the foreign country, those who want to cook this traditional culinary must consider the carbon footprint generated from the imported ingredients of the culinary.
Setelah melewati proses perjalanan udara dengan keterlambatan lebih dari 10 jam akhirnya saya bisa mengikuti kegiatan summer school selama 14 hari secara intens di lapangan untuk melihat secara langsung proses pembuatan keju tradisional dari Tatra Mountain. Setiap mahasiswa bekerja berkelompok untuk berdiskusi dan memberikan saran untuk tiap perusahaan keluarga yang memproduksi "oscypek". Saya sempat kaget ketika tahu kalau para peternak tidak memikirkan hasil dari penjualan kejunya. Mereka bekerja untuk mempertahakan tradisi turun temurun di keluarganya karena keju oscypek ini adalah salah satu jenis produk PDO (Protected Designation or Origin). PDO adalah kriteria untuk produk yang diproduksi, diproses, dan disiapkan di daerah tertentu dan diproduksi secara lokal orang penduduk setempat.

Mountain cheese with special pattern
Ternyata untuk menjustifikasi sebuah proses pembuatan keju itu sustainable atau tidak itu banyak sekali kriterianya dan kami lakukan hanya sebagian kecil dari banyaknya kriteria. Sustainability sendiri terdiri dari lingkungan, ekonomi, dan sosial aspek. Tidak mudah untuk dapat memenuhi ketiga aspek keberlangsungan namun bukan berarti tidak bisa dilakukan.

Saya bersemangat ketika kami belajar tentang Organic Food Quality and Food Culture berasama Prof. Angelika Ploeger. Kami jadi tahu bagaimana mengevaluasi keju. Cara yang mudah dilakukan ini terus diinisiasi untuk diprektekkan dengan harapan para pembuat keju juga dapat melakukan sensory evaluation sehingga kualitas keju tetap terjaga hingga turun-temurun.


Sensory evaluation is also scientific methods consist of human senses such as sight, smell, touch, taste, hearing. Human are able to perceive the whole food system with their senses. After the test, we concluded that eating behavior from individual was develop and it is not about the quality of the food. It is about the preference of the food.

Kami juga mendapat penjelasan mengenai New Nordic Diet (NND) dan Mediterranean Diet (MD) yang menurut saya, kedua jenis diet itu bisa di terapkan dengan mengaplikasikan prinsipnya meggunakan kearifan lokal. Adapting MD and NND as principle with our own traditional recipe using local product is better thus, people can prepare foods sustainably. Traditional and local food could also help to reduce enviromental impact. Engagement to local cuisine could also help to preserve the tradition.





National dinner menjadi acara puncak sebelum pengumuman nilai di WULS. Saya waktu itu buat pisang goreng dan es kuwud sebagai makanan pembuka dan pilihan minuman non alkohol di laboratoriumnya WULS. Sebenarnya masih banyak cerita lainnya tapi kalau mau diceritakan semua kegiatannya bisa jadi beberapa postingan dan sebelumnya saya juga sudah menulis salah satu kegiatan kunjungan ke Biobazar di sini. Selain belajar dan mengenal kebudayaan lokal, pastinya ada bonus jalan-jalan dong dihari libur di mana tidak ada kegiatan aktivitas akademik. Saya juga mengunjungi beberapa museum di Warsawa dengan harga tiket masuk untuk mahasiswa (kurang lebih Rp 4.000,- atau 1 zloty). Cerita museumnya nanti dulu ya!

Semoga cerita singkat ini bisa memberikan gambaran sedikit untuk teman-teman bagaimana kegiatan summer course gratis dari Erasmus+ kali ini. Semua slide presentasi bisa didownload di sini. Selamat menikmati musim panas Sahabat Blog.

Food is without border anymore, eat wisely and live happily!

Pictures are taken by Leonardo Grasso, Yao Chen, Magdalena Backer, and  Hanum Hapsari  (me)

Thursday, August 10, 2017


Bermimpi itu gratis tapi untuk mewujudkannya membutuhkan kerja keras dan proses. Kedua hal itu tidak bisa dibeli dengan uang.

Sudut kampus Frederiksberg, Copenhagen